Beda Usia 12 Tahun, mengapa tidak??


Beda Usia 12 Tahun, mengapa tidak??



Okay.. insyaAllah cerita saya yang ini akan menjadi awal untuk cerita-cerita berikutnya. Disini saya akan bercerita mengenai awal mula saya meng-iya-kan seseorang untuk masuk dan kini telah menjadi bagian hidup saya.

Yes, dialah suami dan ayah dari kedua putri saya.
Kami memiliki perbedaan usia yang bisa dibilang cukup jauh. Bahkan saya dan suami ibarat om dan keponakan. Jadi.. suami saya SMP, sementara saya baru dilahirkan 😊. Beda usia 12 tahun. It’s amazing, right??

Pada saat itu sekitar tahun 2005 awal mula saya ketemu suami. Kebetulan kami ada yang mengenalkan, yaitu sahabat kami.
Idih.. masih kolot banget pakai dikenalkan, apa ndak bisa cari cowok lain?? Atau memang saya tidak laku??
Ha..ha.. ceritanya saya dulu pernah ada relationship sama seseorang, tepatnya dari SMA. Jalan lumayan lama juga. Tapi.. mungkin kami tidak berjodoh, jadi sekitar semester 3 kami akhirnya berpisah. Disinilah jiwa raga mulai terkoyak *hiperbolik mode on 😂
Biasalah... cinta pertama, biasanya susah move on. Sudah berkali-kali berusaha membuka hati, tapi hasil tetap nihil. And finally... saat itu saya sudah mulai bekerja dan memutuskan untuk fokus dengan karir dan untuk masalah hati akan saya pikirkan nanti.
__
Suatu ketika saya bertemu dengan sahabat saya, yang sudah saya anggap sebagai kakak di sebuah rumah makan tempat pemberhentian mobil travel.
Saat itu saya mencoba berkarir di tempat baru dan kebetulan mengharuskan saya untuk keluar dari hometown.
Nah, sahabat saya ini memang sangat tahu cerita cinta saya. Dia menjumpai saya pada saat saya dalam kondisi terpuruk dan memang sudah paham dengan karakter saya.
Saat itu dia cuma bilang: “ Gimana? Sudah ada yang baru belum?”
Saya pun menjawabnya dengan enteng: “ Belum”
Dia kasih respon sambil ketawa menggoda dan bilang: “ Payah”
__
Kadang kalau saya sempatkan untuk merenung, kata “payah” tadi memang tepat diberikan kepada saya. Gimana ndak payah, lawong sudah 5 tahun berlalu tetap saja saya jalan di tempat untuk urusan yang satu ini. Tapi.. untuk menghibur diri, saya memang ingin stay focus on career.
__
Yup, saya ingat sekali. Saat itu saya baru duduk dikursi travel, hp saya bunyi. Ternyata ada sms masuk. Saat itu belum jaman bbm, wa, twitter dan lainnya. Tapi facebook sudah ada.
Ternyata oh ternyata sahabat saya ini kirim pesan seperti ini: “ Nomor hp mu aku kasih ke temanku ya. Temanku ini sudah aku anggap seperti kakakku sendiri”.
Dengan enteng saya balas: “ Okay.. dengan senang hati ”

Setelah kejadian itu, saya sama sekali tidak berfikiran jauh bahwa akan ada seseorang yang akan segera menghubungi saya. Saya tetap melalui kehidupan saya seperti biasanya, tetap sibuk dengan pekerjaan dan tetap merasa kebingungan memberikan jawaban jika ada laki-laki dan bahkan seorang ibu yang telah membawa anak laki-lakinya untuk dikenalkan kepada saya. Saya sempat kesulitan untuk membuat kalimat penolakan. Tapi apa daya, lama kelamaan saya mahir juga dalam urusan ini. Bukannya sok jual mahal, tapi memang saat itu hati belum juga mau terbuka katupnya 👀
__
Di suatu siang di sekitar tengah tahun 2005. Ada sms masuk.
Nah.. itu adalah sms dari laki-laki yang saat ini menjadi suami saya. Sms nya singkat, terasa kaku. Hanya sekedar memperkenalkan diri dan sayapun memperkenalkan diri saya.
Setelah itu, apakah ada berondongan sms bak gencatan senjata dari si mas ini?? Jelas sekali..jawabannya tidak. Saya sedikit merasa heran, baru kali ini saya dapetin laki-laki yang menurut saya beda dengan beberapa cowok lainnya. Cowok yang sedang PDKT kesaya biasanya heboh banget. Sms bisa melebihi jadwal minum obat. Care yang over care. Ini yang membuat saya kurang nyaman karena saya bukalah type cewek yang dikit-dikit suka ditanyain sudah makan atau belum?, kamu lagi dimana?, keadaan kamu bagaimana?.

Saya bukanlah cewek yang manja, terlebih saya sudah bekerja, pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya rasa annoying sekali.
Singkat cerita suatu saat cowok cuek ini sms saya seperti ini: “ Dik, boleh ndak aku main ke rumahmu? “. Kemudian saya jawab: “ Silahkan “
__
Memang saya pulang ke Semarang setiap weekend dan benar di hari sabtu sore si doi main ke rumah. Itulah awal mula saya melihat wajahnya. Yang terlintas saat itu adalah sosok laki-laki dewasa (saya tidak bilang tua lho ya! 😃) dengan badan kurus dan tinggi sekitar 170 cm dan penampilan cukup sederhana namun rapi.
Kami ngobrol berempat: doi, saya, dan kedua orang tua saya. Mungkin karena sudah cukup dewasa, obrolannya dengan orang tua saya sangatlah asik dan nyambung banget.
Oiya, saat itu doi masih kuliah. Dia sedang mengambil pendidikan spesialis. Ya begitulah semua berjalan aman-aman saja. Kami jalan tidak seperti anak muda yang pakai ikrar “ Apakah kamu mau jadi pacarku? “. Kami lalui semua ini seperti berteman biasa. Saling berkirim kabar yang ala kadarnya, tidak ada malam minggu yang spesial dan pastinya tidak ada kata-kata atau kalimat rayuan ataupun yang lain yang membuat melted hati seperti yang dulu saya rasakan. But so far, he makes me happy. Sehingga saat itulah hati saya perlahan mulai bisa menerima sosok baru, saya merasa nyaman karena saya bisa menjadi diri saya sendiri tanpa ada kepura-puraan, pun dia bisa menerima saya apa adanya.
__
Sehingga dapat saya sampaikan bahwa perbedaan usia hingga 12 tahun bukanlah suatu hambatan.

Ada beberapa teman saya yang bertanya, bagaimana cara beradaptasinya?
Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, saya ada sedikit cerita:
Jujur saja, berarti saya selama ini pernah punya pengalaman dengan cowok yang seusia, lalu pernah dekat dengan cowok yang sedikit lebih muda, pernah dekat dengan yang berusia 3-5 tahun di atas saya.

Aiih... ternyata saya banyak pengalamannya ya??!! Tidak..tidak... dari semuanya itu, yang saya akui pacar ya hanya yang pertama, sementara yang lain saya anggap sebagai pelarian. Sounds wicked??? Maybe yes.. but i think it’s normal in teenage life. Tapi sungguh, saya tidak bermaksud mempermainkan mereka.

Saya menyudahi beberapa hubungan itu karena saya merasa beberapa cowok yang hadir setelah pacar pertama saya, memang belum ada lagi yang dapat membuat saya merasa jatuh hati (lagi).
So, dapat saya sampaikan disini bahwa dari semua cowok yang pernah ada hubungan dengan saya, semuanya membuat saya terus belajar beradaptasi. Jadi.. tidak ada yang membuat saya langsung klop bak badan dan tutup panci. Namanya juga dua manusia dengan badan dan isi otak yang berbeda, pastinya sampai kapanpun kita akan dituntut untuk terus belajar memahami seseorang dan terus menjadi adapted human.

Sama halnya dengan hubungan kita dengan orang tua kita yang notabene sedarah dengan kita. Apakah kita tidak perlu beradaptasi dengan mereka? Manusia itu dinamis. Keadaan yang mereka temui akan dengan cepat mempengaruhi psikologinya. Sehingga untuk meminimalkan friksi, kita pasti secara otomatis akan nge-rem sikap kita demi hubungan kita dengan mereka tetap berjalan dengan baik.
__
Jika teman-teman saat ini sedang dekat dengan seseorang yang usianya jauh lebih dewasa, saya hanya berpesan:
  •      Jangan menuntut doi untuk memberi kabar, menanyakan kamu sudah makan atau belum, kamu lagi dimana, minta ditelfon setiap saat, segera menjawab pesan whatsapp-mu, merespon tag-an fb-mu dan hal-hal lebay lainnya
  •       Jangan menuntut untuk diapelin setiap sabtu
  •      Jangan menuntut untuk dapat mengajak doi nonton film
  •      Jangan menuntut doi untuk diajak ngemall
  •      Jangan menuntut doi untuk memanjakan kamu bak putri

Duh... ternyata ndak asik ya???

Sangat salah besar kalau kamu menganggap sosok seperti itu tidak asik.
Begini... kita khan sadar bahwa doi adalah sosok yang dewasa. Waktu yang dia miliki pasti sudah terbagi dengan sebuah tanggung jawab besar, yaitu pekerjaan. Kalau waktu yang  dia miliki kamu ganggu dengan hal remeh temeh bin lebay, bagaimana bisa dia konsentrasi dengan pekerjaannya? Padahal kamu tahu kalau nanti dia menjadi orang sukses, maka kamu juga yang akan happy khan? Kamu akan menikah dengan seorang laki-laki yang hebat. Masa depan anak-anakmu tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Pahami keadaannya. Jika ingin manja, cobalah berbicara dengan kalimat yang baik. Percayalah meskipun dia sibuk dan seolah nyuekin kamu, pada dasarnya hanya kamu yang ada dihatinya.
Laki-laki dewasa cenderung memegang komitmen. Ini yang dapat saya rasakan saat saya berbicara dengan suami saya saat kami masih belum menikah.

Ambil positif poinnya, yaitu kamu bakal masih punya banyak waktu untuk main dengan teman-temanmu, karena laki-laki dewasa tidak akan membatasi pergaulanmu dengan teman-temanmu. Dia akan memberimu ruang untuk terus bersama teman-temanmu, alias tidak over posesif. Laki-laki dewasa akan memberimu kepercayaan lebih. Laki-laki dewasa akan memberikan kesempatan untukmu untuk tetap menjadi dirimu sendiri.

Selalu ingatlah bahwa nanti jika teman-teman menikah, keadaan selama pacaran yang so sweet seperti dalam fairytales akan berubah dan teman-teman akan menemui the real life dengan makhluk yang berbeda badan dan isi kepala dengan kita. Jadi... jika teman-teman saat ini memiliki pasangan yang berbeda jauh usianya dan berlanjut hingga jenjang pernikahan, itu artinya mental teman-teman sudah teruji, sudah tahan banting dan siap menjadi sosok istri yang tangguh dan mandiri. Itulah perempuan idaman dari seorang laki-laki dewasa.
__
Jika saat ini teman-teman memiliki special relationship dengan laki-laki dewasa, perhatikan sikapnya yang sangat wise. Perhatikan sorot matanya saat doi kita ajak sharing suatu masalah. Itu yang selama ini saya rasakan. Pola pikir yang sangat matang akhirnya dapat menyeimbangkan pola pikir saya yang masih cenderung grusa grusu. Life should be balanced khan?

Bukan berarti saya menyampaikan bahwa hubungan dengan laki-laki yang seusia, dengan yang lebih muda atau dengan yang beda usia tidak terlalu jauh, itu tidak asik lho ya..

Semua kembali ke hati teman-teman kira-kira nyaman dengan yang bagaimana. Namun intinya, kita harus terus beradaptasi, kita harus pandai menyesuaikan diri, pandai menjaga emosi dan terus menyadari bahwa prinsip kehidupan adalah:

“ give and take, but giving more is priceless than taking more”
__
Dan alhamdulillah usia pernikahan saya sudah berjalan selama 13 tahun dan sejauh ini semua terasa indah dan baik-baik saja. insyaAllah only death do us part. Aamiin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Manners dalam Pertemanan

Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim

Investasi Untuk Generasi Milenial