Penakluk dunia di masa mendatang

Penakluk dunia di masa mendatang


Selamat hari Minggu...
Hari bahagia untuk berkumpul dengan keluarga tercinta yang hangat.
Kemarin sebagian besar orang tua sudah mengambil progress report ananda kesayangan. 
Apakah teman-teman masih concern pada nilai bahkan ranking yang tertera?
Hmm.....sepertinya tulisan saya ini masih relevan dengan musim raportan seperti sekarang ini.
__

Saya dan suami memang type orang tua yang santai. Kami sama sekali tidak pernah menanyakan mengenai ranking berapa anak-anak kami. Pertanyaan yang selalu saya sampaikan kepada guru kelas sewaktu mengambil raport adalah: " Bagaimana sikap anak kami selama bergaul dengan teman-temannya, guru dan lingkungan sekolah".

Bagi kami point ini lebih penting daripada sebuah angka dan ranking.
Tapi setiap keluarga memiliki prioritas masing-masing dan pasti semua ada sisi positif dan negatifnya.
__

Tulisan ini saya kutip dari penulis anonim yang beredar di social media:

Dear Parents,
The exams of your children are too start soon. I know you are all really anxious for your child to do well. But, please do remember, the students who will be sitting for the exams, there is an artist, who doesn’t need to understand Math. There is an entrepreneur, who doesn’t care about History. There’s a musician, whose Chemistry marks won’t matter. There’s sport person, whose physical fitness is more important than Physics. If your child does get top marks, that’s great! But, if he or she doesn’t, please don’t take away their self-confidence and dignity from them. Tell them it’s OK, it’s just an exam! They are cut out for much bigger things in life. Tell them, no matter what they score, you love them and will not judge them. Please do this, and when you do, watch your children conquer the world. One exam or a low mark won’t take away their dreams and talent. And please, do not think that doctors and engineers are the only happy people in the world.

Tulisan yang sangat menginspirasi karena hingga saat ini masih kita temui orang tua yang tidak bisa menerima keadaan saat anaknya tidak dapat memperoleh nilai ujian sesuai harapannya.

Yup, harapan orang tua. Harapan yang selalu dipatok maksimal seolah anaknya bak seorang profesor super genius yang mampu menyelesaikan semua ujiannya secara sempurna.



Apakah sebenarnya orang tua pernah berpikir bahwa tindakannya ini akan mempengaruhi psikologis anaknya? Padahal orang tua juga pernah melewati masa menjadi anak-anak,atau memang cara berfikir orang tua yang perfektionis tadi adalah hasil “sejarah” di masa lalunya yang mana dahulu dia juga mendapatkan perlakukan demikian dari orang tuanya sehingga dia ingin perlakuan itu menjadi keharusan untuk diturunkan kepada anaknya??

Jika ternyata demikian, betapa kasihannya anak-anak ini. Anak-anak adalah makhluk kecil nan lemah dengan perkembangan otak yang masih belum sempurna, dia masih mencari bentuk. Apakah dalam proses perkembangannya ini, kita sebagai orang tuanya akan meremukkan bentuk-bentuk yang baru dia susun perlahan ini.



Memang tidak seluruhnya salah jika kita mengharapkan anak kita menjadi anak yang handal sehingga kelak mampu memenangkan percaturan dunia. Namun, apakah kita tidak memiliki strategi lain dibandingkan dengan memberikan amarah dan hujatan saat anak kita memperoleh nilai ujian yang tidak sesuai harapan tersebut? Apakah kita akan tetap memberikan hukuman jika anak kita tidak mendapatkan peringkat kelas 3 besar?

Mari kita mulai membenahi cara pikir kita. Yakinlah bahwa Tuhan menciptakan anak-anak kita dengan keunikan masing-masing. Pahami anak kita, kira-kira dia memiliki kelebihan di bidang apa. Jika dia memiliki kelebihan musik atau mungkin cepat menguasai bahasa asing, semakin asahlah kelebihan itu supaya semakin maksimal. Bukan malah memberikan dia bermacam-macam les pelajaran atau kursus karena orang tua berpikir bahwa dengan berjibun les akan membuat si anak mahir dalam segala hal. Padahal tindakan ini akan membuat kemampuan anak menjadi tidak fokus, sehingga perlahan malah akan mengikis kelebihan atau bakat utama yang dimiliki anak, bahkan dapat membuat anak menjadi stres.

Pola asuh yang tepat akan menentukan tumbuh kembang anak. Tidak ada salahnya jika orang tua menginginkan anaknya belajar banyak hal dalam segala bidang, namun jangan hanya karena ambisi orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seperti yang diinginkan orang tua. Anak sebenarnya akan menangis jika terus-terusan dipaksa mengikuti les sana sini. Jangan sampai anak kehilangan waktu bermainnya.



Orang tua sebaiknya menjadi observer yang baik bagi anak. Pahami, bakat apa yang paling menonjol yang dia miliki dan kemudian asahlah agar kelak dia dapat menaklukkan dunia dengan bakatnya ini.

Mari kita buat anak kita tumbuh happy dan kita berikan dukungan atas bakat positifnya.

"Children aren't coloring books. You don't get to fill them with your favorite colors"


*Tulisan dimuat dalam buku: Saya Bukanlah Seekor Octopus, penulis: Ida Puspita



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Manners dalam Pertemanan

Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim

Investasi Untuk Generasi Milenial