Saya Selektif: Istri adalah Manajer Keuangan Dalam Keluarga
Saya Selektif:
Istri adalah Manajer Keuangan Dalam Keluarga
Sepertinya kali ini bahasan kita bakal sedikit serius 🤔.
Tema kali ini yang masih merupakan "Saya Selektif" the series, kita akan bahas mengenai peran seorang istri dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Hmm... kalau dipikir-pikir, istri memang layak kalau disebut sebagai Supermom secara kita harus mampu melakukan urusan rumah tangga, mengurus anak, mengelola pendapatan keluarga, hingga mencari cara bagaimana menambah pendapatan keluarga.
Perlukah istri ikut serta mencari tambahan pendapatan keluarga?
Kalau saya setuju banget. But wait... tema ini akan saya bahas tersendiri.
Kita kembali ke tema kali ini 😎
__
Ups, kok harus ISTRI?
Begini, mari kita bahas sembari ngemil pisang goreng 😄
Dalam kehidupan berkeluarga, idealnya ada satu pihak yang mengatur dan mengelola keuangan.
Pada umumnya yang menjadi manajer keuangan adalah istri, selaku ibu rumah tangga. Hal ini dikarenakan seorang istri sudah pasti tahu dengan segala urusan kebutuhan rumah tangga setiap harinya. Yaitu seperti biaya sekolah anak, bayar listrik, beli sabun, beras, menabung dan berinvestasi, hingga liburan keluarga. Atau dengan kalimat lain, istri-lah yang paling memahami portofolio keuangan keluarga.
Lalu, bagaimana dengan SUAMI?
Suami sebagai kepala keluarga memiliki tugas untuk mencari nafkah bagi anak dan istri. Dengan waktu yang begitu padat oleh jadwal pekerjaan, maka seorang suami dalam rumah tangga kurang memiliki kesempatan yang optimal untuk mengelola keuangan.
Hal ini juga didasari oleh sifat atau cara berpikir seorang perempuan jika ditinjau secara ilmu psikologi: Perempuan memiliki cara berpikir Ekspansif, yaitu dapat berpikir secara detail hingga dapat melakukan kegiatan multi-tasking dimana kemampuan ini merupakan kunci dasar yang sangat potensial jika digunakan dalam mengelola keuangan keluarga.
Sementara cara berpikir laki-laki adalah terkonsentrasi (terpusat) pada kebutuhannya saja dan hanya memperhatikan dirinya saja. Jadi dia tidak bisa membagi konsentrasinya untuk yang lain.
Sebaliknya pada perempuan, akan lebih mudah memperhatikan sekelilingnya melebihi perhatian pada dirinya sendiri.
Dia akan mengorbankan dirinya sendiri dan tidak merasakan hal tersebut.
Hmm... Tuhan menciptkan perempuan dengan design yang luar biasa ya.
Jadi begini contohnya,
Jika suatu saat kita minta tolong ke suami untuk memanggilkan tukang sayur yang lewat di depan rumah disaat suami sedang mencuci mobil. Dapat dipastikan dia tidak akan sadar kalau tukang sayur sedang lewat di depan rumah kita.
Contoh lain, perhatikan saat suami sedang mengemudikan mobil dan dia kita ajak bicara. Fokus tidak dia dengan obrolan kita. Sesekali boleh di tes dengan sedikit menanyakan mengenai obrolan apa yang sudah kita bicarakan. Pasti hasilnya ZONK 😅
__
Nah demikianlah alasannya mengapa yang seharusnya mengelola keuangan keluarga adalah Istri.
Kita harus memberikan ruang kepada suami untuk fokus kepada tanggung jawab pekerjaannya. Kalau suami fokus, kinerja dia akan baik, jika kinerja baik maka dapat dipastikan karir dia juga akan bergerak dalam capaian yang memuaskan.
Benar khan??
__
Okay, sekarang Apakah Tugas Manajer Keuangan Keluarga?
Mengingat peran penting dari seorang istri dalam pengelolaan keuangan, istri diharapkan mampu mengubah mindset nya dari seseorang yang suka membelanjakan uang (spend) menjadi seorang pengelola pendapatan (money creation).
Tugas dari seorang manajer keuangan keluarga adalah mencatat pendapatan dan pengeluaran, membuat anggaran belanja, dan memisahkan uang sesuai dengan keperluan.
Berikut adalah macam-macam model pengelolaan keuangan keluarga yang ada di masyarakat:
1. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh ibu rumah tangga (istri).
Suami akan menyerahkan sepenuhnya seluruh pendapatan kepada istri untuk dikelola. Disini suami hanya meminta "jatah" untuk keperluan sehari-harinya.
2. Keuangan keluarga diatur oleh suami.
Disini istri hanya mendapatkan uang dari suami hanya sebatas untuk belanja keperluan rumah tangga sehari-hari.
3. Keuangan keluarga diatur bersama.
Biasanya cara ini berlaku bagi suami istri yang sama-sama bekerja dan pengaturan keuangan berlaku berdasarkan kesepakatan, pos-pos mana yang akan menjadi bagian istri ataupun suami.
So.. bagaimanapun model yang akan dipilih, semua diserahkan kepada teman-teman, yang mestinya harus dibicarakan secara inten dengan pasangan.
Yang berlaku dalam keluarga kami adalah model 1, sudah saya sampaikan berkali-kali pada tema bahasan sebelumnya.
Kebetulan suami saya merupakan type orang yang tidak mau ribet. Dia suka tahu beres. Saya yakin, dia mempercayakan pengelolaan keuangan keluarga kepada saya karena sejauh ini saya dapat dipercaya. Khan saya ada catatan untuk rekam jejak.
Moms, kadang saya berpikir seperti ini:
Perempuan mana sih yang tidak senang kalau dikasih uang oleh suaminya?
Perempuan mana sih yang tidak senang jika dalam setiap minggunya dikasih ijin untuk hangout dengan teman-teman, ngemall ataupun nongkrong di cafe dengan bergonta-ganti dresscode bahkan menyewa fotografer handal supaya moment tersebut dicapture dengan cantik.
Senang khan?
Itulah bukti seorang suami dalam menunjukkan rasa sayangnya kepada istrinya.
Tapi... kita sebagai istri jangan terus lengah.
Dalam kehidupan ada pasang surutnya. Dalam kehidupan semua mengalami pergerakan, kadang di atas, kadang di bawah.
Kita memang harus terus berpikir positif, tapi tidak ada salahnya jika sesekali ada pikiran negatif supaya kita tetap waspada.
Moms, pernahkah kita membayangkan jika kelak ada suatu keadaan yang membuat kita berpisah dengan suami?
Misal kematian?
Naudzubillah....
Tapi hal ini adalah suatu keniscayaan.
Sudah siapkah?
Apakah sudah menyiapkan alternatif supaya kita tetap bisa menyambung hidup dan melanjutkan kehidupan dengan anak-anak?
Bagaimanapun the show must go on khan?
Itulah alasan mengapa kita harus menjadi istri yang smart.
__
Dalam pengelolaan keuangan keluarga dibutuhkan kebesaran hati pasangan suami- istri untuk secara transparan menyampaikan pendapatan dan pengeluaran keuangan yang sebaiknya tercatat dengan baik.
Melalui pencatatan, akan dapat diketahui secara jelas kemana pendapatan itu digunakan sehingga evaluasi akan mudah juga untuk dilakukan.
Suamipun akan makin cinta kepada kita kalau kita mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik.
Dan selalu diingat bahwa cashflow yang sehat yaitu: Jika dapat menyisihkan MINIMAL 10% dari penghasilan nett setelah PPh untuk tabungan ataupun investasi. Sehingga disini sangat diharapkan agar istri selaku manajer keuangan dapat menetapkan skala prioritas pengeluaran demi terwujudnya goal setting keluarga.
Simple khan?
Semangat selalu untuk para Istri... Yakin kita bisa ❤
Behind every successful man is a surprised woman.
* tulisan ini terbit di Buletin Rafahiyah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Purwokerto, September 2016.
* ilustrasi gambar mengambil dari google.
Sepertinya kali ini bahasan kita bakal sedikit serius 🤔.
Tema kali ini yang masih merupakan "Saya Selektif" the series, kita akan bahas mengenai peran seorang istri dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Hmm... kalau dipikir-pikir, istri memang layak kalau disebut sebagai Supermom secara kita harus mampu melakukan urusan rumah tangga, mengurus anak, mengelola pendapatan keluarga, hingga mencari cara bagaimana menambah pendapatan keluarga.
Perlukah istri ikut serta mencari tambahan pendapatan keluarga?
Kalau saya setuju banget. But wait... tema ini akan saya bahas tersendiri.
Kita kembali ke tema kali ini 😎
__
Ups, kok harus ISTRI?
Begini, mari kita bahas sembari ngemil pisang goreng 😄
Dalam kehidupan berkeluarga, idealnya ada satu pihak yang mengatur dan mengelola keuangan.
Pada umumnya yang menjadi manajer keuangan adalah istri, selaku ibu rumah tangga. Hal ini dikarenakan seorang istri sudah pasti tahu dengan segala urusan kebutuhan rumah tangga setiap harinya. Yaitu seperti biaya sekolah anak, bayar listrik, beli sabun, beras, menabung dan berinvestasi, hingga liburan keluarga. Atau dengan kalimat lain, istri-lah yang paling memahami portofolio keuangan keluarga.
Lalu, bagaimana dengan SUAMI?
Suami sebagai kepala keluarga memiliki tugas untuk mencari nafkah bagi anak dan istri. Dengan waktu yang begitu padat oleh jadwal pekerjaan, maka seorang suami dalam rumah tangga kurang memiliki kesempatan yang optimal untuk mengelola keuangan.
Hal ini juga didasari oleh sifat atau cara berpikir seorang perempuan jika ditinjau secara ilmu psikologi: Perempuan memiliki cara berpikir Ekspansif, yaitu dapat berpikir secara detail hingga dapat melakukan kegiatan multi-tasking dimana kemampuan ini merupakan kunci dasar yang sangat potensial jika digunakan dalam mengelola keuangan keluarga.
Sementara cara berpikir laki-laki adalah terkonsentrasi (terpusat) pada kebutuhannya saja dan hanya memperhatikan dirinya saja. Jadi dia tidak bisa membagi konsentrasinya untuk yang lain.
Sebaliknya pada perempuan, akan lebih mudah memperhatikan sekelilingnya melebihi perhatian pada dirinya sendiri.
Dia akan mengorbankan dirinya sendiri dan tidak merasakan hal tersebut.
Hmm... Tuhan menciptkan perempuan dengan design yang luar biasa ya.
Jadi begini contohnya,
Jika suatu saat kita minta tolong ke suami untuk memanggilkan tukang sayur yang lewat di depan rumah disaat suami sedang mencuci mobil. Dapat dipastikan dia tidak akan sadar kalau tukang sayur sedang lewat di depan rumah kita.
Contoh lain, perhatikan saat suami sedang mengemudikan mobil dan dia kita ajak bicara. Fokus tidak dia dengan obrolan kita. Sesekali boleh di tes dengan sedikit menanyakan mengenai obrolan apa yang sudah kita bicarakan. Pasti hasilnya ZONK 😅
__
Nah demikianlah alasannya mengapa yang seharusnya mengelola keuangan keluarga adalah Istri.
Kita harus memberikan ruang kepada suami untuk fokus kepada tanggung jawab pekerjaannya. Kalau suami fokus, kinerja dia akan baik, jika kinerja baik maka dapat dipastikan karir dia juga akan bergerak dalam capaian yang memuaskan.
Benar khan??
__
Okay, sekarang Apakah Tugas Manajer Keuangan Keluarga?
Mengingat peran penting dari seorang istri dalam pengelolaan keuangan, istri diharapkan mampu mengubah mindset nya dari seseorang yang suka membelanjakan uang (spend) menjadi seorang pengelola pendapatan (money creation).
Tugas dari seorang manajer keuangan keluarga adalah mencatat pendapatan dan pengeluaran, membuat anggaran belanja, dan memisahkan uang sesuai dengan keperluan.
Berikut adalah macam-macam model pengelolaan keuangan keluarga yang ada di masyarakat:
1. Keuangan keluarga diatur sepenuhnya oleh ibu rumah tangga (istri).
Suami akan menyerahkan sepenuhnya seluruh pendapatan kepada istri untuk dikelola. Disini suami hanya meminta "jatah" untuk keperluan sehari-harinya.
2. Keuangan keluarga diatur oleh suami.
Disini istri hanya mendapatkan uang dari suami hanya sebatas untuk belanja keperluan rumah tangga sehari-hari.
3. Keuangan keluarga diatur bersama.
Biasanya cara ini berlaku bagi suami istri yang sama-sama bekerja dan pengaturan keuangan berlaku berdasarkan kesepakatan, pos-pos mana yang akan menjadi bagian istri ataupun suami.
So.. bagaimanapun model yang akan dipilih, semua diserahkan kepada teman-teman, yang mestinya harus dibicarakan secara inten dengan pasangan.
Yang berlaku dalam keluarga kami adalah model 1, sudah saya sampaikan berkali-kali pada tema bahasan sebelumnya.
Kebetulan suami saya merupakan type orang yang tidak mau ribet. Dia suka tahu beres. Saya yakin, dia mempercayakan pengelolaan keuangan keluarga kepada saya karena sejauh ini saya dapat dipercaya. Khan saya ada catatan untuk rekam jejak.
Moms, kadang saya berpikir seperti ini:
Perempuan mana sih yang tidak senang kalau dikasih uang oleh suaminya?
Perempuan mana sih yang tidak senang jika dalam setiap minggunya dikasih ijin untuk hangout dengan teman-teman, ngemall ataupun nongkrong di cafe dengan bergonta-ganti dresscode bahkan menyewa fotografer handal supaya moment tersebut dicapture dengan cantik.
Senang khan?
Itulah bukti seorang suami dalam menunjukkan rasa sayangnya kepada istrinya.
Tapi... kita sebagai istri jangan terus lengah.
Dalam kehidupan ada pasang surutnya. Dalam kehidupan semua mengalami pergerakan, kadang di atas, kadang di bawah.
Kita memang harus terus berpikir positif, tapi tidak ada salahnya jika sesekali ada pikiran negatif supaya kita tetap waspada.
Moms, pernahkah kita membayangkan jika kelak ada suatu keadaan yang membuat kita berpisah dengan suami?
Misal kematian?
Naudzubillah....
Tapi hal ini adalah suatu keniscayaan.
Sudah siapkah?
Apakah sudah menyiapkan alternatif supaya kita tetap bisa menyambung hidup dan melanjutkan kehidupan dengan anak-anak?
Bagaimanapun the show must go on khan?
Itulah alasan mengapa kita harus menjadi istri yang smart.
__
Dalam pengelolaan keuangan keluarga dibutuhkan kebesaran hati pasangan suami- istri untuk secara transparan menyampaikan pendapatan dan pengeluaran keuangan yang sebaiknya tercatat dengan baik.
Melalui pencatatan, akan dapat diketahui secara jelas kemana pendapatan itu digunakan sehingga evaluasi akan mudah juga untuk dilakukan.
Suamipun akan makin cinta kepada kita kalau kita mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik.
Dan selalu diingat bahwa cashflow yang sehat yaitu: Jika dapat menyisihkan MINIMAL 10% dari penghasilan nett setelah PPh untuk tabungan ataupun investasi. Sehingga disini sangat diharapkan agar istri selaku manajer keuangan dapat menetapkan skala prioritas pengeluaran demi terwujudnya goal setting keluarga.
Simple khan?
Semangat selalu untuk para Istri... Yakin kita bisa ❤
Behind every successful man is a surprised woman.
* tulisan ini terbit di Buletin Rafahiyah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Purwokerto, September 2016.
* ilustrasi gambar mengambil dari google.


Komentar
Posting Komentar