Saya Selektif: Fam trip Budget
Saya Selektif:
Fam trip Budget
Assalamu'alaikum...
Sebelumnya saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Semoga jiwa kita yang kembali suci ini akan siap kita ajak untuk berselancar melalui 11 bulan kemudian dalam rasa syukur dan penuh keberkahan. Aamiin...
Di malam takbiran ini, saya mengingat request dari beberapa teman yang menanyakan bagaimana sih cara saya memanage keuangan keluarga sehingga kami bisa punya jadwal family trip ke luar negeri?
Yup, jujur saja kalau dihitung-hitung memang kami butuh budget yang lumayan (bagi ukuran keluarga kami, barangkali bagi keluarga lain budget ini tidak seberapa).
Pasti teman-teman bakal heran karena saya mulai menyisihkan beberapa pendapatan saya dan suami untuk ngetrip ini sudah sejak awal saya menikah.
Begini ceritanya,
Saya dan suami menikah di tahun 2006. Jujur saja saat itu saya menikahi seorang laki-laki yang baru lulus kuliah. Belum bekerja. Sementara saya sudah bekerja sejak 2003.
Kok berani nikah sih?
Hahaha... saya dan suami berkomitmen untuk menikah kalau suami saya sudah selesai pendidikan spesialisnya. Setelah benar selesai, ya akhirnya kami menikah. Untuk urusan keuangan, saya yakin Allah akan memberikan jalan, terlebih saya juga tidak menganggur.
Kebetulan setelah menikah, kami LDR an. Saya di Purwokerto dan suami masih di Semarang. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan keuangan kami saat itu. Uang bertebaran di jalan alias habis untuk membiayai ongkos travel dan biaya hidup di dua dapur yang berbeda.
Kenapa kami tinggal di kota terpisah?
Saya sebelum menikah sudah bekerja di salah satu bank nasional di kota Purwokerto dan suami masih diperbantukan di salah satu bagian di salah satu rumah sakit di Semarang. Saya sudah berusaha minta mutasi ke Semarang, tapi hasilnya nihil, sulit sekali.
Kenapa saya tidak resign saja?
Aduh... resign??
Nanti kami makan apa???
Karena jujur saja, penghasilan suami saat itu hanya dapat memenuhi ongkos bensin mobil dia saja. Jadi mana berani saya mengambil keputusan itu.
But, the show must go on.
Alhamdulillah, rejeki memang tidak kemana. Suami dapat tawaran pekerjaan di salah satu RS di Purwokerto. Akhirnya pertengahan tahun 2007, suami saya pindah ke sini. Yes, kita akhirnya bisa tinggal serumah.
Disinilah perjuangan dimulai (lagi).
Bukan berarti suami saya langsung punya penghasilan yang menggiurkan lho ya. Sedikit demi sedikit apa yang kami peroleh saya tata ulang. Saya sangat bersyukur karena setidaknya post bugdet untuk membeli tiket travel sudah bisa saya reduksi.
Keuangan saya atur sedimikian rupa sehingga kebutuhan untuk persiapan jika saya sewaktu-waktu hamil dan untuk membeli rumah sudah saya pikirkan masak-masak.
Jujur saja dengan penghasilan kami saat itu, kami harus jeli memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Tapi alhamdulillah... karena kebutuhan kami saat itu adalah rumah, menjadi pemicu kami untuk kuat prihatinnya. Karena kalau kontrak terus, bakal sia-sia uang kami, lenyap hanya untuk bayar kontrakkan.
Naah... disaat kami sibuk mengumpulkan sedikit demi sedikit modal untuk bayar DP rumah, saya juga menyisihkan sedikit untuk dana multi fungsi. Saya beranikan diri untuk mengambil tabungan berjangka. Saat itu saya mengambil durasi 36 bulan.
Saat itu yang terpikir hanya satu. Semua harus dipaksakan disisihkan. Tahun 2008 kami berhasil membayar DP rumah.
Waah..cepat sekali ngumpulin uangnya?
Hehehe.. tidak semudah itu kok. Untuk menambah DP saya rela menjual simpanan saya yang berupa logam mulia. Sejak pertama kali bekerja, saya sudah suka menyisihkan gaji saya untuk membeli LM meskipun hanya sedikit gram.
Next saya akan share mengenai bagaimana saya menyiasati hasrat hedon seorang jiwa muda 😄
Sembari semua dilalui, tabungan berjangka kami akhirnya jatuh tempo (JT) juga. Nah, di tahun 2010 pas kebetulan anak pertama kami berusia 2 tahun. Uang cairan tabungan tersebut bisa kami pakai untuk pergi ke luar negeri. Saat itu kami pergi ke negara tetangga saja: Vietnam dan Singapura.
Begitu seterusnya pola itu saya pakai. Setelah salah satu tabungan berjangka JT bukan berarti saya stop tidak menabung lagi. Saya buka lagi rekening baru untuk tempat saya menyisihkan penghasilan untuk rencana ngetrip selanjutnya.
Yang semula tabungan berjangka itu bunyinya untuk dana multi fungsi, finally saya sudah bisa mengcreate nama account baru yaitu Dana Piknik, karena setelah piknik trial kami berhasil berjalan dengan baik, ternyata bikin nagih lho 😅
Next saya juga akan share mengenai piknik sedikit jauh dengan membawa balita.
Jadi begitu teman-teman. Bagi kami semua diperoleh melalui perjuangan, tidak dengan tiba-tiba kami bisa pergi piknik tanpa ada rencana yang matang.
Oiya, mengapa saya pilih rekening tabungan berjangka?
Yup, melalui rekening itu saya bisa menghitung seberapa rupiah yang memang kami mampu sisihkan. Nominalnya tidak banyak, tapi at least karena sistem tabungan itu adalah auto debet dari rekening tabungan biasa, jadi mau tidak mau kami harus memaksakan diri untuk menyisihkan pendapatan kami untuk dicaplok di pas tanggal auto debetnya.
Dengan auto debet jelas kami tidak bisa mangkir, jadi alhamdulillah ada "polisi" yang menjewer jika kami ingin lupa peraturan.
Disitulah mental disiplin dimulai, karena bagi saya dan suami jika kami tidak "memaksakan" kondisi ini, kami yakin keuangan kami bakal kocar kacir. Goals kami bakal hanya jadi wish saja.
Next juga akan saya share bagaimana tips berinvestasi dengan dana yang minim.
__
Intinya adalah: Beranikan diri untuk mengambil keputusan dalam hal keuangan. Sisihkan sedikitpun penghasilan yang kita peroleh.
Yang saya tekankan disini adalah SISIHKAN, jadi bukan SISAKAN. So, sisihkan pasti ada unsur pemaksaan, kalau sisakan pasti lebih flexible, ya kalau ada sisa, kalau ndak ada ya sudahlah... Benar bukan????
Silahkan teman-teman ingin memilih metode yang bagaimana. Kalau seperti saya, saya pilih tabungan berjangka dengan sistem auto debet rekening. Meskipun return yang saya peroleh sangat kecil, tapi at least nafsu belanja saya bisa terkontrol dengan baik. Dan... apapun pilihan teman-teman harus selalu disampaikan kepada suami supaya komitmen berdua tadi lebih membuat mantap hati teman-teman sehingga goals keluarga kita akan tercapai dengan baik.
Fam trip Budget
![]() |
Sebelumnya saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Semoga jiwa kita yang kembali suci ini akan siap kita ajak untuk berselancar melalui 11 bulan kemudian dalam rasa syukur dan penuh keberkahan. Aamiin...
Di malam takbiran ini, saya mengingat request dari beberapa teman yang menanyakan bagaimana sih cara saya memanage keuangan keluarga sehingga kami bisa punya jadwal family trip ke luar negeri?
Yup, jujur saja kalau dihitung-hitung memang kami butuh budget yang lumayan (bagi ukuran keluarga kami, barangkali bagi keluarga lain budget ini tidak seberapa).
Pasti teman-teman bakal heran karena saya mulai menyisihkan beberapa pendapatan saya dan suami untuk ngetrip ini sudah sejak awal saya menikah.
Begini ceritanya,
Saya dan suami menikah di tahun 2006. Jujur saja saat itu saya menikahi seorang laki-laki yang baru lulus kuliah. Belum bekerja. Sementara saya sudah bekerja sejak 2003.
Kok berani nikah sih?
Hahaha... saya dan suami berkomitmen untuk menikah kalau suami saya sudah selesai pendidikan spesialisnya. Setelah benar selesai, ya akhirnya kami menikah. Untuk urusan keuangan, saya yakin Allah akan memberikan jalan, terlebih saya juga tidak menganggur.
Kebetulan setelah menikah, kami LDR an. Saya di Purwokerto dan suami masih di Semarang. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan keuangan kami saat itu. Uang bertebaran di jalan alias habis untuk membiayai ongkos travel dan biaya hidup di dua dapur yang berbeda.
Kenapa kami tinggal di kota terpisah?
Saya sebelum menikah sudah bekerja di salah satu bank nasional di kota Purwokerto dan suami masih diperbantukan di salah satu bagian di salah satu rumah sakit di Semarang. Saya sudah berusaha minta mutasi ke Semarang, tapi hasilnya nihil, sulit sekali.
Kenapa saya tidak resign saja?
Aduh... resign??
Nanti kami makan apa???
Karena jujur saja, penghasilan suami saat itu hanya dapat memenuhi ongkos bensin mobil dia saja. Jadi mana berani saya mengambil keputusan itu.
But, the show must go on.
Alhamdulillah, rejeki memang tidak kemana. Suami dapat tawaran pekerjaan di salah satu RS di Purwokerto. Akhirnya pertengahan tahun 2007, suami saya pindah ke sini. Yes, kita akhirnya bisa tinggal serumah.
Disinilah perjuangan dimulai (lagi).
Bukan berarti suami saya langsung punya penghasilan yang menggiurkan lho ya. Sedikit demi sedikit apa yang kami peroleh saya tata ulang. Saya sangat bersyukur karena setidaknya post bugdet untuk membeli tiket travel sudah bisa saya reduksi.
Keuangan saya atur sedimikian rupa sehingga kebutuhan untuk persiapan jika saya sewaktu-waktu hamil dan untuk membeli rumah sudah saya pikirkan masak-masak.
Jujur saja dengan penghasilan kami saat itu, kami harus jeli memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Tapi alhamdulillah... karena kebutuhan kami saat itu adalah rumah, menjadi pemicu kami untuk kuat prihatinnya. Karena kalau kontrak terus, bakal sia-sia uang kami, lenyap hanya untuk bayar kontrakkan.
Naah... disaat kami sibuk mengumpulkan sedikit demi sedikit modal untuk bayar DP rumah, saya juga menyisihkan sedikit untuk dana multi fungsi. Saya beranikan diri untuk mengambil tabungan berjangka. Saat itu saya mengambil durasi 36 bulan.
Saat itu yang terpikir hanya satu. Semua harus dipaksakan disisihkan. Tahun 2008 kami berhasil membayar DP rumah.
Waah..cepat sekali ngumpulin uangnya?
Hehehe.. tidak semudah itu kok. Untuk menambah DP saya rela menjual simpanan saya yang berupa logam mulia. Sejak pertama kali bekerja, saya sudah suka menyisihkan gaji saya untuk membeli LM meskipun hanya sedikit gram.
Next saya akan share mengenai bagaimana saya menyiasati hasrat hedon seorang jiwa muda 😄
Sembari semua dilalui, tabungan berjangka kami akhirnya jatuh tempo (JT) juga. Nah, di tahun 2010 pas kebetulan anak pertama kami berusia 2 tahun. Uang cairan tabungan tersebut bisa kami pakai untuk pergi ke luar negeri. Saat itu kami pergi ke negara tetangga saja: Vietnam dan Singapura.
Begitu seterusnya pola itu saya pakai. Setelah salah satu tabungan berjangka JT bukan berarti saya stop tidak menabung lagi. Saya buka lagi rekening baru untuk tempat saya menyisihkan penghasilan untuk rencana ngetrip selanjutnya.
Yang semula tabungan berjangka itu bunyinya untuk dana multi fungsi, finally saya sudah bisa mengcreate nama account baru yaitu Dana Piknik, karena setelah piknik trial kami berhasil berjalan dengan baik, ternyata bikin nagih lho 😅
Next saya juga akan share mengenai piknik sedikit jauh dengan membawa balita.
Jadi begitu teman-teman. Bagi kami semua diperoleh melalui perjuangan, tidak dengan tiba-tiba kami bisa pergi piknik tanpa ada rencana yang matang.
Oiya, mengapa saya pilih rekening tabungan berjangka?
Yup, melalui rekening itu saya bisa menghitung seberapa rupiah yang memang kami mampu sisihkan. Nominalnya tidak banyak, tapi at least karena sistem tabungan itu adalah auto debet dari rekening tabungan biasa, jadi mau tidak mau kami harus memaksakan diri untuk menyisihkan pendapatan kami untuk dicaplok di pas tanggal auto debetnya.
Dengan auto debet jelas kami tidak bisa mangkir, jadi alhamdulillah ada "polisi" yang menjewer jika kami ingin lupa peraturan.
Disitulah mental disiplin dimulai, karena bagi saya dan suami jika kami tidak "memaksakan" kondisi ini, kami yakin keuangan kami bakal kocar kacir. Goals kami bakal hanya jadi wish saja.
Next juga akan saya share bagaimana tips berinvestasi dengan dana yang minim.
__
Intinya adalah: Beranikan diri untuk mengambil keputusan dalam hal keuangan. Sisihkan sedikitpun penghasilan yang kita peroleh.
Yang saya tekankan disini adalah SISIHKAN, jadi bukan SISAKAN. So, sisihkan pasti ada unsur pemaksaan, kalau sisakan pasti lebih flexible, ya kalau ada sisa, kalau ndak ada ya sudahlah... Benar bukan????
Silahkan teman-teman ingin memilih metode yang bagaimana. Kalau seperti saya, saya pilih tabungan berjangka dengan sistem auto debet rekening. Meskipun return yang saya peroleh sangat kecil, tapi at least nafsu belanja saya bisa terkontrol dengan baik. Dan... apapun pilihan teman-teman harus selalu disampaikan kepada suami supaya komitmen berdua tadi lebih membuat mantap hati teman-teman sehingga goals keluarga kita akan tercapai dengan baik.
" Motivation is what gets you started. Commitment is what keeps you going.”


Terimakasih ibu cantik, sangat menginspirasi. 🙏🙏🙏 ingat "sisihkan jangan sisakan"
BalasHapusada tips untuk memilih tabungan berjangka yang tidak terlalu memberatkan utk kalangan menengah ke bawah?
BalasHapusUntuk tabungan berjangka, minimal ada yg Rp.100.000 perbulan. Banyak bank sudah menjual produk ini. Jika ingin mencoba menabung emas bisa main ke Pegadaian utk mengambil produk Tabungan emas. Cukup setor minimal seharga 0.01gr saja.
Hapus