Saya Selektif: bukannya pelit!
Saya Selektif: bukannya pelit!
Yes .. itulah saya.. semua serba terencana karena bagi
saya yang terencana saja belum tentu berhasil, apalagi jika tidak direncanakan
dengan baik, dapat dipastikan kemungkinan gagal akan makin terbuka lebar.
Sejak awal kami menikah, saya dan suami tidak pernah
menganggap ini adalah uangku dan itu adalah uangmu. Kami meleburkan penghasilan
kami berdua dalam satu muara. Why?? Apakah tidak bakal membatasi ruang gerak
alias mengekang kebebasan masing-masing pihak dalam penggunaan uang?
Saya akan menjawab dengan lantang NOPE. Bagi kami,
sistem pengelolaan keuangan keluarga dengan satu muara akan mempermudah kami
untuk memanage keuangan keluarga dan side effect lainnya adalah: kami dapat
menjaga kejujuran kami berdua karena pengeluaran uang sepeserpun, kami berdua
akan mengetahui digunakan untuk keperluan apa saja.
Disini suami saya menyerahkan sepenuhnya pendapatan
yang dia terima kepada saya dan untuk menjaga kepercayaannya, saya mempunyai
buku catatan untuk mencatat seluruh penghasilan dan pengeluaran setiap harinya.
Hmm...kok ribet ya, semua harus dicatat. Itukan
wasting time!
Apakah saat ini yang terlintas dibenak teman-teman apa
yang saya lakukan sangat membuang banyak waktu? Pencatatan itu seakan suami
tidak mempercayai istri.
Apakah demikian yang teman-teman rasakan?
__
Saya tidak menganggap pekerjaan “konyol” untuk
melakukan pencatatan keuangan keluarga sebagai aktivitas yang memberatkan dan
hanya sebuah hal yang sia-sia.
Kebetulan saya sudah suka mencatat pendapatan dan
pengeluaran harian saya sejak saya kecil, yaitu saat SD karena orang tua saya
memberi uang saku untuk saya secara mingguan. Dan juga sejak SD saya sudah suka
bisnis-bisnisan alias berdagang, saat itu saya suka mancarikan titipan teman berupa jepit rambut,
penghapus dan barang-barang mungil lainnya yang kemudian spread harga itulah
yang menjadi keuntungan saya. Jujur lho, seneng banget karena dengan hasil yang
yang saya peroleh saat itu, saya bisa membelikan kado ulang tahun teman tanpa
meminta orang tua, saya bisa beli kaos kaki dengan karakter-karater dari Disney
kesukaan saya. Dan hobi berdagang itu saya lakukan hingga saya kuliah sehingga
saya bisa membayar kursus bahasa inggris dan komputer serta membeli buku-buku
kuliah dengan hasil jerih payah sendiri. Plus saat kuliah saya dapat
penghasilan tambahan lainnya, yaitu saya dapat beasiswa dan saya juga menjadi
guru les.
Dari situlah saya rasakan pencatatan keuangan sangat
penting untuk dilakukan karena saya bisa membuat forecast budget untuk short
dan long term goals berdasarkan catatan yang saya punya, sekaligus sebagai
media review jika disuatu waktu ada penggelembungan pengeluaran.
Nah, setelah saya menikah, budaya mencatat mempermudah
saya untuk mengatur pendapatan agar sesuai dengan goals setting kami. Sebenarnya
suami saya cuek, sama sekali tidak mempermasalahkan penggunaan uang. Tapi..
saya tetap go ahead, karena so far manfaatnya lebih banyak dibandingkan
mudharotnya.
Pada saat saya hamil anak pertama beberapa hal selektif yang
saya rencanakan
untuk mengatur pemetaan pendapatan antara lain sebagai berikut:
a. Say no to
baby sitter
Saya akan
tetap mengambil pembantu rumah tangga biasa yang nantinya akan membantu saya
untuk mengurus anak pada saat saya sedang bekerja.
Mengapa?
Yup, baby
sitter is costly karena kita harus membayar kepada yayasan dan karena mereka
dilatih secara professional untuk menghandle bayi jadi disitulah letak harganya.
Lho, jelas kalau
pakai baby sitter anak akan lebih safe khan?
Untuk
meminimalkan risiko kalau-kalau anak kita diasuh oleh pembantu rumah tangga
akan terjadi hal yang tidak diinginkan, sebaiknya waktu yang ideal untuk
merekrut mereka adalah sebelum 3 bulan dari HPL.
Pembantu rumah
tangga kita ajak kenalan dulu dengan situasi dan kebiasaan di rumah kita.
Apalagi kalau sebelumnya di rumah sudah ada pembantu yang existing. Mereka
harus saling mengenal dan kita harus siap memberikan job desk mereka
masing-masing.
Lalu pembantu
yang baru khan belum ada kerjaan ngurus baby, kita bayar orang nganggur dong??
Tentu tidak…
Seperti yang saya sampikan tadi, kita harus uraikan dulu tanggung jawab dia pre
dan after kehamilan saya.
Kalau kita
kreatif, pemanfaatan si mbak tetap tidak ada masalah kok.
Oiya alasan
lain mengapa saya prefer ke house maid to baby sitter, yaitu karena biasanya
pembantu rumah tangga lebih tidak perhitungan mengenai pekerjaan. Dia tidak
terpatok hanya bekerja untuk handle anak saja. Ini hanya sekedar pengalaman
yang saya peroleh dari kerabat yang punya pengalaman dengan baby sitter.
Ceritanya si
baby sitter ini cuek dengan keadaan rumah, misal ada piring kotor di washbak,
dia ndak akan bantu untuk cuci piring padahal si anak yang dia momong sedang
tidur.
Intinya dia
perhitungan banget, bahkan bantu angkat jemuran selain baju anak yang dia asuh saja,
dia tidak mau.
Kalau saya
melihat kelakuan seperti ini jelas bakal nyesek. So..supaya tidak kejadian,
saya pilih ambil pembantu rumah tangga biasa saja.
b.
Pilih lahiran secara normal
Yup, jelas
kalau lahiran normal biaya yang akan dikeluarkan lebih hemat plus proses
recovery kita akan lebih cepat dibandingkan lairan secara Caesar.
Saat ketahuan
hamil, saya benar-benar aware dengan kesehatan saya. Saya cukup selektif dalam
memilih makanan. Saya perhatikan kandungan nutrisinya. Pokoknya tidak asal
makan karena saya kuatir apakah nanti bakal banyak garam yang saya konsumsi,
mengingat garam cukup berbahaya untuk tekanan darah.
Saya banyak
membaca referensi tentang kehamilan baik dari melakukan senam hamil sendiri di
rumah hingga semacam cara menghipnotis diri supaya kita yakin bahwa nanti bisa
lahiran secara normal.
Naah..
melakukan senam hamil sendiri di rumah, sudah lumayan mengurangi cost lagi
khan… 😃
Saya juga
rajin jalan kaki mengelilingi komplek plus minta tips dari teman-teman yang
sudah berpengalaman melahirkan secara normal.
Untuk lebih
meyakinkan lagi apakah kita benar-benar nantinya dimungkinkan melahirkan secara normal, saya pergi ke dokter
Radiology pada saat usia kandungan 7 bulan supaya dilakukan USG secara detail,
disana kita juga tahu bagaimana kondisi air ketubannya (jumlah cairan ketuban
terlalu banyak atau terlalu sedikit karena dapat menimbulkan masalah) serta
kondisi plasenta dan menilai bila terjadi masalah seperti plasenta previa.
Usaha saya
ini memang membuat saya semakin percaya diri meskipun dokter kandungan juga
sudah memberikan hasil pemeriksaannya. But… demi lahiran secara normal, saya
harus bergerilya ikhtiar.
c.
ASI Eksklusif
Sudah sangat
jelas bahwa keunggulan ASI sudah tidak diragukan lagi. Mana ada yang bisa
menandingi ciptaan Tuhan?
Saat
diketahui hamil, saya sudah memantapkan hati bahwa saya akan memberikan ASI
Eksklusif untuk anak saya dan sangat besar harapan saya untuk melanjutkan
sampai anak berusia 24 bulan.
Otak saya
setting untuk harapan saya ini. Tapi saya yakin bahwa saya akan berhasil karena
perempuan diberi kelenjar payudara (mammae) dan pasti dapat menyusui kecuali ada hal-hal medis
yang memang tidak memungkinkan untuk melakukannya.
Saya baca
beberapa referensi mengenai cara meningkatkan jumlah ASI, antara lain:
1.
Konsumsi makanan berlemak
Makanan
berlemak sangat baik untuk membentuk ASI yang mengandung lemak. Fungsi lemak
ini dapat membuat postur tubuh bayi akan lebih baik, tidak kurus ataupun
kegemukan. Makanan tersebut dapat diperoleh dari daging, kacang-kacangan dan
alpukat.
2.
Rileks
Selama kehamilan usahakan selalu happy, santai, jangan
stress. Masa kehamilan merupakan masa yang sangat membahagiakan, jadi
nikmatilah dengan riang dan gembira 😀
3.
Perbanyak minum air
Supaya tidak kekurangan cairan, perbanyak minum air
putih, jangan minum minuman bersoda karena dapat membuat teman-teman kekurangan
cairan. Dan kita juga harus ingat bahwa kandungan minuman bersoda sangat tidak
baik untuk wanita hamil karena mengandung zat seperti kafein, pemanis buatan,
zat adiktif, serta asam karbonat yang dapat mempengaruhi perkembangan janin.
4.
Penuhi kebutuhan protein
Protein berguna untuk membangun jaringan di dalam
tubuh bayi, yang mana dapat kita peroleh dari daging, telur, tahu, kacang-kacangan,
dan makanan lainnya.
5.
Perbanyak makan sayur dan buah-buahan
Sebaiknya perbanyak konsumsi sayuran yang berwarna hijau, seperti bayam
dan kangkung.
Naah..mudah khan?? Selama masa
kehamilan kita tidak perlu repot-repot untuk minum susu untuk ibu hamil. Kita
jaga saja pola makan kita seperti yang saya sampaikan tadi. Seberapa banyak
kita minum susu ibu hamil tapi mengesampingkan kandungan gizi makanan yang kita
makan, hasilnya juga nothing. Padahal susu untuk ibu hamil harganya juga
lumayan. Coba kita kalikan selama 9 bulan masa kehamilan, hasilnya sama dengan
$$$
Saya juga sudah melakukan penelitian
mengenai saving yang dapat kita peroleh jika memberikan ASI:
·
Eksklusif selama 6 bulan: Rp. 10 Juta
·
Sampai 24 bulan : Rp. 35 Juta
Hitungan tersebut menggunakan harga
susu yang paling murah. Coba kalau kita belinya susu yang berlabel gold atau
platinum. Duh… sebulan bisa keluar budget minimal Rp.2,5 juta itu…
Sayang banget khan? Padahal manfaat
ASI untuk kesehatan anak sangat luar biasa. Sehat dan hemat. Masih mau tidak
ngASI in anak kita????
d.
Pilih antara keinginan vs kebutuhan
Pada saat ingin membeli peralatan dan baju bayi,
usahakan tidak kalap ya mom. Kita harus pahami antara kebutuhan bayi ataukah
keinginan orang tua
Jangan sampai kita korbankan dana darurat keluarga.
Untuk peralatan seperti stroller, car seat tidak ada salahnya untuk mencari
persewaan atau yang jual pre-loved. Tapi.. jika berniat untuk memiliki anak
kedua, ketiga dan seterusnya, bisa deh membeli yang baru dengan kualitas yang baik.
And… jangan lupa, pasti nanti kita akan dapat banyak
kado dari teman dan kerabat. Jadi belanja baju bayinya tidak perlu
banyak-banyak. Serta perlu diingat bahwa badan bayi cepat sekali berkembang.
Kalau kebanyakan beli, paling hanya bertahan maksimal 3 bulan saja.
e.
Manfaatkan asuransi atau BPJS
Saya tidak bisa membayangkan jika saya tidak memiliki
asuransi atau BPJS. Berapa banyak nominal yang bakal kita kerluarkan selama
masa kehamilan, melahirkan serta pasca melahirkan yaitu biaya untuk vaksin atau
imuninasi. Banyak khan??
Itulah beberapa hal selektif yang saya lakukan untuk mencoba mengatur pengeluaran. Sepertinya semuanya merupakan harapan yang natural dan alhamdulillah tidak ada yang merugikan diri sendiri maupun orang lain 😍
Itulah beberapa hal selektif yang saya lakukan untuk mencoba mengatur pengeluaran. Sepertinya semuanya merupakan harapan yang natural dan alhamdulillah tidak ada yang merugikan diri sendiri maupun orang lain 😍
” a goal
without a plan is just a wish “

Komentar
Posting Komentar