Gadget untuk Anak???
Gadget untuk Anak???
" Children need models rather than critics "
* ilustrasi gambar diambil dari google
Tadi malam saya melihat video postingan teman saya di salah satu media sosial. Video itu mengenai vlog anak kecil, kalau diperhatikan dari cara bicaranya yang masih belum jelas, dugaan saya usianya sekitar 4-5 tahunan.
Dari cara mengendalikan hp, saya lihat anak ini sudah cukup lihai dan benar gaya penyampaian kontennya pun sudah mirip dengan voggler kenamaan.
Dari beberapa respon (dalam kolom komentar), banyak yang memberikan pujian: salut, hebat, keren, lucu dan lain-lain.
Tetapi, mengapa saya tidak sepaham dengan komen tersebut?
Ya benar, saya merupakan salah satu penganut paham orang tua model jaman baheula. Bagi saya, anak-anak apalagi usia golden age belum sepatutnya diberikan hp secara autopilot.
Dari video itu, si anak pergi bersama-sama beberapa teman lainnya seakan ingin menunjukkan sebuah tempat. Berhubung bicaranya belum jelas, jadi sayapun juga menerka-nerka apakah yang sebetulnya ingin ia sampaikan.
Pemberian hp tanpa dampingan orang tua begitu berisiko. Mungkin dalam video yang dibuat anak tersebut kontennya masih aman. Tapi.... apakah tidak dimungkinkan suatu saat akan terjadi sesuatu atau bisa jadi si anak membuat konten yang menurut dia yang innocent ini merupakan hal yang wajar. Bagaimana jika dikemudian hari dia membuat konten yang sebenarnya mengarah ke hal negatif?.
Maaf, mungkin saya terlalu halu. Pikiran saya cenderung buruk. Namun, entah kekhawatiran saya selalu membuncah jika anak-anak yang belum bisa berpikir dengan logikanya sudah diberi hp ataupun gadget lainnya yang difasilitasi dengan kuota tanpa dampingan orang tua.
Saat ini anak-anak sudah sangat pintar mengoperasikan gadget, sudah bisa search sendiri apa yang diinginkan.
Hmm...hal ini juga yang membuat saya miris karena jika kita sendiri mencoba mencari informasi dengan memasukkan suggetion word melalui search engine atau mencari video melalui youtube, maka yang keluar bisa beraneka macam, dari yang wajar sampai vulgar.
Lalu bagaimana jika anak-anak kita terpapar oleh informasi yang vulgar?
Bahaya penggunaan gadget pada anak dilansir dari Theasianparent supaya dapat dihindari, dengan cara tidak membiarkan mereka terpapar teknologi tersebut secara berlebihan. Apalagi diberi hak kepemilikan saat usia mereka masih di bawah 12 tahun, karena bisa menghambat tumbuh kembang otak, mental, bahkan fisiknya.
Pesan dari Perhimpunan Dokter Anak Internasional bahwa anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja perhari.
Pada usia 0-2 tahun, otak anak bertumbuh dengan cepat hingga dia berusia 21 tahun. Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan.
Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.
Dampak yang lain dari konten di media yang bisa diakses anak, dapat menimbulkan sifat agresif pada anak. Kekerasan fisik dan seksual banyak tersebar di internet, dan jika tidak dilakukan pengawasan, anak bisa terpapar itu semua. Sehingga memicu timbulnya perilaku agresif.
Bagaimana dengan bahaya kecanduan?
Ketika orangtua terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak. Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orangtua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gadget, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi, dan tidak bisa lepas darinya.
__
Dengan latar belakang informasi tentang dampak negatif gadget, maka kurang lebih 5 tahun yang lalu yaitu pada saat anak pertama kami duduk di bangku kelas 1 SD, akhirnya kami memutuskan untuk menarik kembali tablet dari tangannya.
Alhamdulillah, anak kami baru sekitar 3 bulanan bersinggungan dengan piranti canggih ini.
Kami memutuskan untuk memberikan anak hak pakai terhadap gadget dalam hal ini adalah Hp, pada saat si anak berusia 12 tahun.
Yup, hanya sebatas hak pakai bukan hak milik.
Jadi hanya pada jam-jam tertentu mereka dapat menggunakan Hp tersebut.
Pengalaman ini telah saya tulis dalam buku sederhana saya
"Saya Bukanlah Seekor Octopus"
Berikut saya lampirkan:
Pesan dari Perhimpunan Dokter Anak Internasional bahwa anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja perhari.
Pada usia 0-2 tahun, otak anak bertumbuh dengan cepat hingga dia berusia 21 tahun. Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan.
Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.
Dampak yang lain dari konten di media yang bisa diakses anak, dapat menimbulkan sifat agresif pada anak. Kekerasan fisik dan seksual banyak tersebar di internet, dan jika tidak dilakukan pengawasan, anak bisa terpapar itu semua. Sehingga memicu timbulnya perilaku agresif.
Bagaimana dengan bahaya kecanduan?
Ketika orangtua terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak. Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orangtua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gadget, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi, dan tidak bisa lepas darinya.
__
Dengan latar belakang informasi tentang dampak negatif gadget, maka kurang lebih 5 tahun yang lalu yaitu pada saat anak pertama kami duduk di bangku kelas 1 SD, akhirnya kami memutuskan untuk menarik kembali tablet dari tangannya.
Alhamdulillah, anak kami baru sekitar 3 bulanan bersinggungan dengan piranti canggih ini.
Kami memutuskan untuk memberikan anak hak pakai terhadap gadget dalam hal ini adalah Hp, pada saat si anak berusia 12 tahun.
Yup, hanya sebatas hak pakai bukan hak milik.
Jadi hanya pada jam-jam tertentu mereka dapat menggunakan Hp tersebut.
Pengalaman ini telah saya tulis dalam buku sederhana saya
Berikut saya lampirkan:
Good Bye Gadget
Sekarang ini smartphone android dengan harga murah
berkisar satu juta an semakin menyerbu pasar gadget di Indonesia. Sebagai
negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak nomor 4 di dunia, yaitu sekitar
240 juta jiwa, maka produsen elektronik terutama vendor dari negara China benar-benar ingin menfaatkan peluang ini.
China ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari para pengguna ponsel
pintar yang makin hari semakin bertambah permintaannya. Alasan lain yang
mendasari China menargetkan Indonesia sebagai pangsa pasarnya yaitu karena
masyarakat Indonesia terkenal dengan sifatnya yang konsumtif dan sering kali
“latah” jika ada model baru.
Yup...memang
tidak bisa dibantah lagi bahwa menggunakan serta keharusan memiliki perangkat
gadget sudah menjadi kebutuhan umat manusia di muka bumi saat ini. Karena
ponsel yang dulu hanya berfungsi sebagai alat komunikasi kini telah disulap
menjadi asisten digital mobile yang bisa kita bawa kemanapun guna mendukung
berbagai macam aktivitas baik dalam pekerjaan, sebagai piranti bersosialisasi dan
entertining.
Inilah yang
menjadi sorotan saya, di saat gadget jatuh ke tangan yang belum tepat, yaitu
anak-anak, apakah lebih banyak manfaat ataukah mudharatnya untuk mereka?
Saya termasuk
yang pernah melakukan kesalahan ini. Bagi saya, memberikan gadget kepada anak
lebih banyak mudharatnya. Tapi alhamdulillah, berkat komitmen saya dan suami,
akhirnya kami bisa “menyapih” anak-anak kami dari piranti ini. Perjuangan yang
sangat sulit saat proses penyapihan. Anak-anak kami mengalami tantrum yang luar
biasa. Kini mereka terbebas dan kembali asik dengan permainan-permainan yang
mengasah kemampuan motorik dan kinestetiknya, serta dapat bersosialisasi secara
baik dengan teman-temannya.
Beberapa
penelitian menyampaikan dampak negatif dari gadget pada anak, yaitu radiasi.
Paparan radiasi sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan anak terutama
pada perkembangan otak dan imun anak. Kita perhatikan saat ini anak-anak usia
pra sekolahpun sudah memakai kaca mata. Gadget cenderung menyebabkan kecanduan,
hal ini tentunya akan mempengaruhi perkembangan fisik dan motorik anak.
Terbukti pada anak saya, saat kami sudah tidak lagi memberikan gadget, pasca
penghentian itu selama 2 minggu reaksi yang terjadi adalah tantrum yang luar
biasa karena sudah memasuki tahap kecanduan.
Gadget dapat
menyebabkan penyakit mental. Penggunaan gadget yang tidak terkontrol dan terus
menerus dapat memicu depresi, gangguan bipolar dan autis. Yup...anak akan asik
dengan dunianya sendiri, kelak dia akan mengalami kesulitan bersosialisasi dan
ini sangat berpengaruh terhadap kecerdasan emosionalnya (EQ/ Emotional Quotient). Menyebabkan
obesitas. Hal ini dikarenakan anak-anak menjadi kurang gerak sehingga terjadi
penumpukkan lemak tubuh yang mempercepat kenaikan berat badan secara
berlebihan. Adanya pengaruh tayangan. Terkadang tanpa kita sadari anak-anak membuka situs online yang
mempertontonkan tayangan yang belum pantas untuk mereka, serta masih banyak
lagi dampak negatif lainnya.
Lalu, apakah
kita ingin anak-anak kita sendiri terkena dampak negatif itu?
Bukan karena
berdalih ingin anak-anak tampak anteng di rumah, lalu mereka kita sodori gadget
tanpa kontrol dan batasan waktu, terlebih dengan bonus koneksi internet yang unlimited.
Mari selamatkan anak-anak kita. Biarkanlah mereka bersepeda keliling komplek, bermain sepatu roda, bermain lompat tali, menyusun lego dan puzzle, atau bermain peran bersama teman-temannya karena masa depan mereka masih sangatlah panjang.
Mari selamatkan anak-anak kita. Biarkanlah mereka bersepeda keliling komplek, bermain sepatu roda, bermain lompat tali, menyusun lego dan puzzle, atau bermain peran bersama teman-temannya karena masa depan mereka masih sangatlah panjang.
" Children need models rather than critics "
* ilustrasi gambar diambil dari google





Komentar
Posting Komentar