Kenali Penyakit Keuangan Keluarga
Kenali Penyakit Keuangan Keluarga
Keuangan keluarga juga bak sebuah tubuh manusia, bisa sehat dan sebaliknya. Sebagai seorang istri (manajer keuangan) sebaiknya kita bisa mengenali penyakit - penyakit keuangan keluarga sehingga kita bisa mengambil langkah antisipasi untuk menyelamatkan keuangan keluarga. Jangan sampai kita lengah sehingga penyakit ini bisa membuat renggang keharmonisan keluarga.
Uang memang penting, tapi ingat bahwa ini tidak sepadan untuk dijadikan pemicu pertengkaran dalam rumah tangga. Semakin dipertengkarkan, sejatinya akan semakin kecil peluang kita untuk meraih keamanan keuangan keluarga.
__
Beberapa penyakit keuangan keluarga:
Utang
Mendengar kata Utang bulu kuduk serasa merinding.
Sebenarnya jika kita berutang secara bijak dan memberi batasan, utang tidak akan menjadi momok yang mengerikan.
Bagaimana mengatur utang secara bijak?
Buatlah prioritas dalam memilih utang. Berutang untuk memiliki aset tetap seperti tanah atau bangunan sangat disarankan daripada untuk membeli kendaraan atau bahkan untuk konsumtif semata.
Mengapa tanah atau bangunan?
Yup, karena harganya yang cenderung naik dan masih worth it meskipun ada bagian yang mengalami penyusutan ( bangunan rumah, bangunan ruko ), tapi... tanahnya tidak akan pernah menyusut.
Mengapa bukan kendaraan?
Aduh...serem deh berutang semisal untuk membeli motor atau mobil, karena bunga yang akan kita bayar jika diakumulasi dengan harga beli dan kita head to head kan dengan harga jualnya, maka kita akan dibuat jantungan. Kita tidak bakal pernah cuan atau untung dari menjual kendaraan yang kita beli dari utang.
Jika memang keuangan belum memungkinkan untuk membeli kendaraan impian, lebih baik tahan diri untuk beberapa waktu sampai dana mencukupi atau pilih kendaraan yang harganya bisa kita rengkuh. Azas manfaat lebih penting daripada nantinya utang membuat tidur tidak nyenyak.
And berutang untuk barang konsumtif???
Akan saya bahas setelah ini ya...
So...let's be wise dalam berutang dan selalu memberi alarm MAXIMAL 30% dari penghasilan bersih setelah PPh, supaya hidup kita terasa nyaman tidak dihantui oleh utang. Jangan sampai gali lubang tutup lubang. Hindari membayar utang dengan utang yang lain karena hal ini akan menciptakan mata rantai yang tidak ada ujungnya.
Kartu Kredit
Tanpa kita sadari kartu kredit akan jadi penyakit dalam keuangan keluarga. Membawa kartu kredit dalam dompet saat pergi ke mall merupakan godaan terbesar bagi kita saat melihat barang - barang bertanda discount.
Bijaklah dalam menggunakan kartu kredit.
Milikilah maksimal 2 biji kartu kredit dan setting pembayarannya secara 100% bukan minimal payment. Karena bunga kartu kredit sangat membikin "terpana" dan membunuh kita secara perlahan.
Penggunaan kartu kredit dengan minimum payment setting untuk keperluan konsumtif harus dihindari karena akan membuat kita terlena berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Keberadaan kartu kredit dapat memicu kebiasaan konsumtif yang berlebih. Membuat kita terlena memilah mana kebutuhan dan mana keinginan.
Tidak Investasi
Kembali ke formula keuangan keluarga yang telah saya sampaikan pada tema-tema sebelumnya bahwa keuangan keluarga yang sehat minimal dapat menyisihkan 10% penghasilan untuk berinvestasi.
Teman-teman dapat memulai investasi melalui reksadana yang mudah dan tidak memerlukan modal yang terlalu besar karena saat ini ada lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan yang menawarkan reksadana cukup dengan Rp.50.000 - Rp.100.000,- perbulan (bahkan ada yang hanya Rp.10.000,-) atau teman-teman dapat mencoba investasi melalui emas batang. Tidak perlu langsung beli yang gram-annya besar, yang mungil - mungil dulu asal istiqomah mengingat emas batang harganya relatif stabil sehingga sangat pas untuk mempersiapkan pendidikan anak, pensiun atau untuk keperluan lain.
Hidup Hemat
Membudayakan hidup hemat dalam keluarga tidak ada salahnya untuk dicoba. Seperti juga telah saya sampaikan pada tema sebelumnya bahwa hemat dan pelit sangat berbeda jauh. Hemat diartikan sikap dan tindakan menempatkan sesuatu berdasarkan kebutuhan dan keperluan, bukan berdasarkan keinginan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus segera dipenuhi, sedangkan keinginan adalah sesuatu yang masih dapat ditunda.
Tidak menerapkan hidup hemat akan mengacaukan keuangan keluarga kita. Bukannya tidak boleh membeli barang barang yang kita inginkan. Hanya saja kita harus ingat bahwa keinginan tidak memiliki batasan alias unlimited sedangkan pendapatan terbatas. Jika selalu memenuhi keinginan, tidak mengherankan jika pengeluaran selalu lebih besar daripada pendapatan.
__
Oiya, sebaiknya kita jangan terlalu sering melihat ke atas, cukup sesekali dan lebih seringlah untuk melihat ke bawah. Karena dengan terlalu sering melihat ke atas akan membuat kita lelah, cukup sesekali saja untuk memotivasi diri agar kita punya semangat untuk menjadi lebih baik dan lebih banyak melihat ke bawah agar kita menjadi sosok yang pandai bersyukur.
Jika penghasilan atau pendapatan keluarga kita baru bisa menjangkau 1 sampai 2 langkah, jangan sampai kita memaksakan diri untuk mengambil langkah lebih banyak lagi terlebih melalui utang. Kita bisa membuat langkah lebih banyak jika kita menciptakan pendapatan tambahan dengan memulai bisnis sampaingan.
Hmm....sepertinya seru juga untuk dibahas mengenai bisnis sampingan 😉
So... mari kita buat skala prioritas dan terus semangat menjadi ibu dan manajer keuangan keluarga yang cerdas ❤
" The best preparation for tomorrow is doing your best today "
* ilustrasi gambar dari google
Keuangan keluarga juga bak sebuah tubuh manusia, bisa sehat dan sebaliknya. Sebagai seorang istri (manajer keuangan) sebaiknya kita bisa mengenali penyakit - penyakit keuangan keluarga sehingga kita bisa mengambil langkah antisipasi untuk menyelamatkan keuangan keluarga. Jangan sampai kita lengah sehingga penyakit ini bisa membuat renggang keharmonisan keluarga.
Uang memang penting, tapi ingat bahwa ini tidak sepadan untuk dijadikan pemicu pertengkaran dalam rumah tangga. Semakin dipertengkarkan, sejatinya akan semakin kecil peluang kita untuk meraih keamanan keuangan keluarga.
__
Beberapa penyakit keuangan keluarga:
Mendengar kata Utang bulu kuduk serasa merinding.
Sebenarnya jika kita berutang secara bijak dan memberi batasan, utang tidak akan menjadi momok yang mengerikan.
Bagaimana mengatur utang secara bijak?
Buatlah prioritas dalam memilih utang. Berutang untuk memiliki aset tetap seperti tanah atau bangunan sangat disarankan daripada untuk membeli kendaraan atau bahkan untuk konsumtif semata.
Mengapa tanah atau bangunan?
Yup, karena harganya yang cenderung naik dan masih worth it meskipun ada bagian yang mengalami penyusutan ( bangunan rumah, bangunan ruko ), tapi... tanahnya tidak akan pernah menyusut.
Mengapa bukan kendaraan?
Aduh...serem deh berutang semisal untuk membeli motor atau mobil, karena bunga yang akan kita bayar jika diakumulasi dengan harga beli dan kita head to head kan dengan harga jualnya, maka kita akan dibuat jantungan. Kita tidak bakal pernah cuan atau untung dari menjual kendaraan yang kita beli dari utang.
Jika memang keuangan belum memungkinkan untuk membeli kendaraan impian, lebih baik tahan diri untuk beberapa waktu sampai dana mencukupi atau pilih kendaraan yang harganya bisa kita rengkuh. Azas manfaat lebih penting daripada nantinya utang membuat tidur tidak nyenyak.
And berutang untuk barang konsumtif???
Akan saya bahas setelah ini ya...
So...let's be wise dalam berutang dan selalu memberi alarm MAXIMAL 30% dari penghasilan bersih setelah PPh, supaya hidup kita terasa nyaman tidak dihantui oleh utang. Jangan sampai gali lubang tutup lubang. Hindari membayar utang dengan utang yang lain karena hal ini akan menciptakan mata rantai yang tidak ada ujungnya.
Kartu Kredit
Tanpa kita sadari kartu kredit akan jadi penyakit dalam keuangan keluarga. Membawa kartu kredit dalam dompet saat pergi ke mall merupakan godaan terbesar bagi kita saat melihat barang - barang bertanda discount.
Bijaklah dalam menggunakan kartu kredit.
Milikilah maksimal 2 biji kartu kredit dan setting pembayarannya secara 100% bukan minimal payment. Karena bunga kartu kredit sangat membikin "terpana" dan membunuh kita secara perlahan.
Penggunaan kartu kredit dengan minimum payment setting untuk keperluan konsumtif harus dihindari karena akan membuat kita terlena berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Keberadaan kartu kredit dapat memicu kebiasaan konsumtif yang berlebih. Membuat kita terlena memilah mana kebutuhan dan mana keinginan.
Tidak Investasi
Kembali ke formula keuangan keluarga yang telah saya sampaikan pada tema-tema sebelumnya bahwa keuangan keluarga yang sehat minimal dapat menyisihkan 10% penghasilan untuk berinvestasi.
Teman-teman dapat memulai investasi melalui reksadana yang mudah dan tidak memerlukan modal yang terlalu besar karena saat ini ada lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan yang menawarkan reksadana cukup dengan Rp.50.000 - Rp.100.000,- perbulan (bahkan ada yang hanya Rp.10.000,-) atau teman-teman dapat mencoba investasi melalui emas batang. Tidak perlu langsung beli yang gram-annya besar, yang mungil - mungil dulu asal istiqomah mengingat emas batang harganya relatif stabil sehingga sangat pas untuk mempersiapkan pendidikan anak, pensiun atau untuk keperluan lain.
Hidup Hemat
Membudayakan hidup hemat dalam keluarga tidak ada salahnya untuk dicoba. Seperti juga telah saya sampaikan pada tema sebelumnya bahwa hemat dan pelit sangat berbeda jauh. Hemat diartikan sikap dan tindakan menempatkan sesuatu berdasarkan kebutuhan dan keperluan, bukan berdasarkan keinginan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus segera dipenuhi, sedangkan keinginan adalah sesuatu yang masih dapat ditunda.
Tidak menerapkan hidup hemat akan mengacaukan keuangan keluarga kita. Bukannya tidak boleh membeli barang barang yang kita inginkan. Hanya saja kita harus ingat bahwa keinginan tidak memiliki batasan alias unlimited sedangkan pendapatan terbatas. Jika selalu memenuhi keinginan, tidak mengherankan jika pengeluaran selalu lebih besar daripada pendapatan.
__
Oiya, sebaiknya kita jangan terlalu sering melihat ke atas, cukup sesekali dan lebih seringlah untuk melihat ke bawah. Karena dengan terlalu sering melihat ke atas akan membuat kita lelah, cukup sesekali saja untuk memotivasi diri agar kita punya semangat untuk menjadi lebih baik dan lebih banyak melihat ke bawah agar kita menjadi sosok yang pandai bersyukur.
Jika penghasilan atau pendapatan keluarga kita baru bisa menjangkau 1 sampai 2 langkah, jangan sampai kita memaksakan diri untuk mengambil langkah lebih banyak lagi terlebih melalui utang. Kita bisa membuat langkah lebih banyak jika kita menciptakan pendapatan tambahan dengan memulai bisnis sampaingan.
Hmm....sepertinya seru juga untuk dibahas mengenai bisnis sampingan 😉
So... mari kita buat skala prioritas dan terus semangat menjadi ibu dan manajer keuangan keluarga yang cerdas ❤
" The best preparation for tomorrow is doing your best today "
* ilustrasi gambar dari google



Komentar
Posting Komentar