Perlukah Ibu Rumah Tangga Berpenghasilan?
Perlukah Ibu Rumah Tangga Berpenghasilan?
Assalamu'alaikum...
MashaAllah ternyata sudah hampir 2 minggu saya tidak sharing-sharing di sini. Dan kali ini tetiba sharing malah tema yang saya pilih cukup sensitif 😥
Sebelum kita bahas lebih lanjut, saya ingin sampaikan bahwa tema ini hanya sekedar opini saya pribadi, jika kiranya mengganggu ataupun teman-teman tidak sepakat, mohon kita tidak saling menghakimi.
Teman-teman bisa memberikan kritik, saran ataupun masukan di kolom komentar, karena saya selalu mengharapkan feedback dari pembaca tulisan saya.
__
Terkait dengan tema kita kali ini, saya ingin tekankan bahwa yang dimaksud berpenghasilan bukan berarti kita sebagai ibu rumah tangga harus menjadi pekerja kantoran yang harus meninggalkan rumah dari jam 08.00 hingga 17.00 atau malah bisa jadi lebih dari itu.
Bukan...bukan seperti itu maksud saya.
Berpenghasilan yang saya maksud adalah melakukan aktivitas yang memberikan bonus efek peningkatan ekonomi keluarga namun bukan sebagai sumber utama penopang keuangan keluarga (backbone/ tulang punggung), namun sebagai bentuk aktualisasi kemultitaskingan kita sebagai ibu dan juga untuk mengasah terus otak kita sehingga kita akan menjadi pribadi yang kreatif, memiliki networking yang baik dan yang jelas semakin percaya diri karena kita menjadi sosok ibu yang lebih mandiri namun tetap tidak menelantarkan fitrah kita sebagai seorang ibu untuk merawat keluarga sepenuh hati.
__
Lalu bagaimana cara untuk dapat berpenghasilan?
Di era millenial seperti sekarang ini dimana semua menjadi serba cepat, teknologi berkembang dengan sangat pesat, atau sekarang lebih dikenal sebagai era industri 4.0, era disrupsi, era dimana orang-orang serba lekat dengan teknologi sehingga informasi bisa diperoleh melalui genggaman.
Nah...kita sebagai seorang ibu yang full time di rumah harus menjadikan era ini sebagai era yang penuh peluang, yaitu peluang untuk mencoba menekuni sesuatu yang nantinya memberikan efek bonus seperti yang saya sampaikan di atas: penghasilan, tanpa meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga.
Banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakukan, seperti bisnis online seperti reseller barang-barang fashion, membuat makanan ataupun kue, menulis atau jenis pekerjaan lain yang bisa dilakukan di rumah.
Saya punya beberapa teman yang suka masak. Mereka menerima order hanya dengan mengirimkan broadcast ke group whatsApp dan melalui direct message di list kontak whatsApp nya mengenai menu-menu yang akan mereka masak. Juga mengirimkan info tersebut ke media sosmed lainnya seperti facebook dan instagram.
Melalui media-media tersebut, teman saya ini tidak perlu kuatir untuk menyediakan stock makanan, tapi dia memasak sesuai order dari konsumen. Jadi bisa disimpulkan bahwa usahanya aman, potensi tidak terjualnya makanan bisa diminimalkan serta tidak perlu menyediakan tempat lain untuk display makanannya.
Demikian juga teman saya yang lain dengan education background yang cukup baik seperti S2 dan dokter, yang lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang memiliki bisnis di rumah.
Mereka melakukan aktivitas bisnisnya saat anak-anaknya sudah berada di sekolah. Saat jam pulang sekolah, mereka sudah ready di sekolah untuk menjemput dan lanjut mengantar anak untuk les.
Pada jaman sekarang ini anak-anak banyak yang bersekolah di full-day school, sehingga mama memiliki banyak waktu untuk mengkreasikan waktu luangnya.
__
Upaya pemanfaatan waktu luang ini bukan berarti karena alasan uang belanja dari suami yang terasa kurang, tapi lebih ke arah empowering diri kita untuk menjadi istri dan ibu yang aktif dan mandiri.
Kita belajar bisnis dan kita jadikan bisnis menjadi hiburan. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa mengurus rumah tangga saja dapat menjadikan istri menjadi jumud. Rutinitas yang dilakukan tanpa diselingi dengan aktivitas lain akan membuat kita merasa bosan. Dengan berbisnis akan membuat suasana rumah menjadi lebih hidup terlebih jika bisnis yang dijalani merupakan hobi yang menghasilkan dan pastinya akan lebih membahagiakan lagi.
Sisi positif dari kemandirian financial yang sudah kita bentuk akan membantu kita untuk tetap survive jika ada hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi pada suami kita sebagai si penopang atau tulang punggung keluarga, seperti jika suami mendadak sakit sehingga tidak bisa bekerja lagi atau kemungkinan paling buruk terjadi seperti jika suami meninggal dunia.
Bagi saya pribadi, meskipun ada yang menyampaikan bahwa tidak baik memiliki pemikiran tentang kematian, tapi bagi saya kematian adalah hal yang tidak bisa dielakkan, hal yang pasti terjadi karena pada hakekatnya kita hanya menunggu antrian untuk dipanggil.
Jika kita dulu yang dipanggil jelas tidak ada masalah, tapi jika suami kita?
Jika suami teman-teman adalah seorang pengusaha, mintalah untuk dilibatkan dalam mengelola usahanya, karena jika terjadi sesuatu dengan suami, teman-teman bisa langsung hand over usaha tersebut.
Kita sebagai seorang ibu harus siap dengan segala risiko. Kita harus tetap bertahan menyambung hidup dengan anak-anak kita yang pastinya tetap membutuhkan dana.
Oleh karena itu, mari kita lebih kreatif memanfaatkan segala peluang untuk membuat kita menjadi seorang ibu yang mandiri secara financial dengan tanpa melupakan menyisihkan bonus (baca: penghasilan) yang kita peroleh untuk simpanan dan berinvestasi, plus... jangan lupa untuk mengasuransikan suami kita karena dialah pemeran utama sebagai penopang utama ekonomi keluarga kita.
" When women participate in the economy, everyone benefits" - Hillary Clinton
* ilustrasi gambar diambil dari google
Assalamu'alaikum...
MashaAllah ternyata sudah hampir 2 minggu saya tidak sharing-sharing di sini. Dan kali ini tetiba sharing malah tema yang saya pilih cukup sensitif 😥
Sebelum kita bahas lebih lanjut, saya ingin sampaikan bahwa tema ini hanya sekedar opini saya pribadi, jika kiranya mengganggu ataupun teman-teman tidak sepakat, mohon kita tidak saling menghakimi.
Teman-teman bisa memberikan kritik, saran ataupun masukan di kolom komentar, karena saya selalu mengharapkan feedback dari pembaca tulisan saya.
__
Terkait dengan tema kita kali ini, saya ingin tekankan bahwa yang dimaksud berpenghasilan bukan berarti kita sebagai ibu rumah tangga harus menjadi pekerja kantoran yang harus meninggalkan rumah dari jam 08.00 hingga 17.00 atau malah bisa jadi lebih dari itu.
Bukan...bukan seperti itu maksud saya.
Berpenghasilan yang saya maksud adalah melakukan aktivitas yang memberikan bonus efek peningkatan ekonomi keluarga namun bukan sebagai sumber utama penopang keuangan keluarga (backbone/ tulang punggung), namun sebagai bentuk aktualisasi kemultitaskingan kita sebagai ibu dan juga untuk mengasah terus otak kita sehingga kita akan menjadi pribadi yang kreatif, memiliki networking yang baik dan yang jelas semakin percaya diri karena kita menjadi sosok ibu yang lebih mandiri namun tetap tidak menelantarkan fitrah kita sebagai seorang ibu untuk merawat keluarga sepenuh hati.
__
Lalu bagaimana cara untuk dapat berpenghasilan?
Di era millenial seperti sekarang ini dimana semua menjadi serba cepat, teknologi berkembang dengan sangat pesat, atau sekarang lebih dikenal sebagai era industri 4.0, era disrupsi, era dimana orang-orang serba lekat dengan teknologi sehingga informasi bisa diperoleh melalui genggaman.
Nah...kita sebagai seorang ibu yang full time di rumah harus menjadikan era ini sebagai era yang penuh peluang, yaitu peluang untuk mencoba menekuni sesuatu yang nantinya memberikan efek bonus seperti yang saya sampaikan di atas: penghasilan, tanpa meninggalkan peran sebagai ibu rumah tangga.
Banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakukan, seperti bisnis online seperti reseller barang-barang fashion, membuat makanan ataupun kue, menulis atau jenis pekerjaan lain yang bisa dilakukan di rumah.
Saya punya beberapa teman yang suka masak. Mereka menerima order hanya dengan mengirimkan broadcast ke group whatsApp dan melalui direct message di list kontak whatsApp nya mengenai menu-menu yang akan mereka masak. Juga mengirimkan info tersebut ke media sosmed lainnya seperti facebook dan instagram.
Melalui media-media tersebut, teman saya ini tidak perlu kuatir untuk menyediakan stock makanan, tapi dia memasak sesuai order dari konsumen. Jadi bisa disimpulkan bahwa usahanya aman, potensi tidak terjualnya makanan bisa diminimalkan serta tidak perlu menyediakan tempat lain untuk display makanannya.
Demikian juga teman saya yang lain dengan education background yang cukup baik seperti S2 dan dokter, yang lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang memiliki bisnis di rumah.
Mereka melakukan aktivitas bisnisnya saat anak-anaknya sudah berada di sekolah. Saat jam pulang sekolah, mereka sudah ready di sekolah untuk menjemput dan lanjut mengantar anak untuk les.
Pada jaman sekarang ini anak-anak banyak yang bersekolah di full-day school, sehingga mama memiliki banyak waktu untuk mengkreasikan waktu luangnya.
__
Upaya pemanfaatan waktu luang ini bukan berarti karena alasan uang belanja dari suami yang terasa kurang, tapi lebih ke arah empowering diri kita untuk menjadi istri dan ibu yang aktif dan mandiri.
Kita belajar bisnis dan kita jadikan bisnis menjadi hiburan. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa mengurus rumah tangga saja dapat menjadikan istri menjadi jumud. Rutinitas yang dilakukan tanpa diselingi dengan aktivitas lain akan membuat kita merasa bosan. Dengan berbisnis akan membuat suasana rumah menjadi lebih hidup terlebih jika bisnis yang dijalani merupakan hobi yang menghasilkan dan pastinya akan lebih membahagiakan lagi.
Sisi positif dari kemandirian financial yang sudah kita bentuk akan membantu kita untuk tetap survive jika ada hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi pada suami kita sebagai si penopang atau tulang punggung keluarga, seperti jika suami mendadak sakit sehingga tidak bisa bekerja lagi atau kemungkinan paling buruk terjadi seperti jika suami meninggal dunia.
Bagi saya pribadi, meskipun ada yang menyampaikan bahwa tidak baik memiliki pemikiran tentang kematian, tapi bagi saya kematian adalah hal yang tidak bisa dielakkan, hal yang pasti terjadi karena pada hakekatnya kita hanya menunggu antrian untuk dipanggil.
Jika kita dulu yang dipanggil jelas tidak ada masalah, tapi jika suami kita?
Jika suami teman-teman adalah seorang pengusaha, mintalah untuk dilibatkan dalam mengelola usahanya, karena jika terjadi sesuatu dengan suami, teman-teman bisa langsung hand over usaha tersebut.
Kita sebagai seorang ibu harus siap dengan segala risiko. Kita harus tetap bertahan menyambung hidup dengan anak-anak kita yang pastinya tetap membutuhkan dana.
Oleh karena itu, mari kita lebih kreatif memanfaatkan segala peluang untuk membuat kita menjadi seorang ibu yang mandiri secara financial dengan tanpa melupakan menyisihkan bonus (baca: penghasilan) yang kita peroleh untuk simpanan dan berinvestasi, plus... jangan lupa untuk mengasuransikan suami kita karena dialah pemeran utama sebagai penopang utama ekonomi keluarga kita.
" When women participate in the economy, everyone benefits" - Hillary Clinton
* ilustrasi gambar diambil dari google



Komentar
Posting Komentar