Mendidik Anak Untuk Menghargai Uang
Mendidik Anak Untuk Menghargai Uang
Menjadi orang yang cakap dalam mengelola keuangan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi memerlukan kebiasaan dan kedisiplinan yang sudah dibangun dalam waktu yang tidak sebentar, oleh karena itu mendidik anak mengenai keuangan sejak ia masih kecil akan sangat bermanfaat,agar ketika besar nanti mereka terbiasa mengelola keuangan mereka dengan baik.
Menciptakan sebuah habit pasti dibutuhkan kesabaran, ketelatenan namun kita sebagai orang tua harus terus semangat mewujudkannya.
Awalnya kita harus mengajarkan kepada anak sebuah konsep dasar bahwa untuk mendapatkan uang seseorang harus bekerja terlebih dahulu. Kita sampaikan kepada anak bahwa uang tidak datang dengan sendirinya dan pastinya kita harus sampaikan juga bahwa uang yang berkah adalah uang yang diperoleh dari imbalan aktivitas yang berkah juga. Sehingga disini sekaligus kita mengajarkan konsep makna pintu rejeki yang halal.
__
Berhubung anak belum bekerja, maka contoh pengaplikasian saya dalam pengenalan konsep uang kepada anak, yaitu pada saat memberi mereka uang saku, angpao lebaran ataupun hadiah lain saat anak memperoleh prestasi dibidang akademis maupun non akademis.
Saya memberi anak uang saku pada saat mereka masuk di Sekolah Dasar. Saya sampaikan kepada mereka bahwa uang saku adalah hadiah atau kontraprestasi ayah dan bunda karena mereka sudah menjadi anak besar yang pastinya siap belajar dengan metode yang berbeda dengan saat mereka masih di TK. Hadiah dari sebuah effort: rajin sekolah.
Saat ini uang saku masih saya berikan secara harian. Rencananya mereka baru saya beri secara mingguan saat masuk SMP.
Saya selalu sampaikan kepada anak-anak supaya mengelola uang saku tersebut dengan baik. Uang saku tersebut harus ada yang disisihkan untuk beramal, disisihkan untuk simpanan dan sisanya baru untuk jajan.
• Pos Beramal
Saya sangat bersyukur di sekolah anak-anak terdapat program tabungan Qurban. Jadi saya sampaikan kepada anak-anak, uang saku yang disisihkan untuk pos beramal bisa dititipkan ke sekolah.
Dan alhamdulillah anak-anak tertib hingga bulan Qurban tiba, saya tinggal menambah uang kekurangan untuk pembelian hewan Qurban tersebut.
Jika di sekolah anak-anak bunda tidak ada program ini, bunda bisa mengaplikasikan program ini di rumah.
Di sekolah anak saya, setiap anak disediakan buku untuk pencatatan setiap harinya. Sepertinya ini juga bisa dilakukan di rumah lho bund, agar semuanya bisa tercatat dengan baik 😉
• Pos Simpanan
Saya suka mengajak bicara anak-anak mengenai barang apa yang ingin mereka beli. Misal suatu ketika anak menyampaikan ingin membeli tas atau barang yang lain.
Nah, kami suka intip harga barang itu via google. Dari harga yang ada, saya sampaikan bahwa akan ada subsidi sekitar 25%-50% untuk membeli barang tersebut.
Anak-anak saya memiliki amplop khusus (bukan celengan) untuk menyimpan sisihan uang sakunya. Mereka sudah menganggarkan berapa rupiah tiap hari yang mesti mereka sisihkan agar tujuan barang yang ingin mereka beli setidaknya 50%-75% bisa mereka upayakan sendiri. Entah sampai berapa bulan akan terkumpul, kita support saja proses prihatin mereka ini.
•Pos Jajan
Untuk mengakali supaya sisa uang saku tidak digunakan sepenuhnya untuk jajan. Saya sengaja membawakan bekal kue dari rumah. Selain uang untuk jajan bisa dihemat dan bisa dimasukkan ke pos dana amal ataupun pos dana simpanan, saya juga lebih yakin akan kesehatan dan kandungan nutrisi yang terkandung dalam jajan yang dikonsumsi anak-anak. Alias kualitas jajan mereka lebih bisa saya kontrol.
__
Efek dari habit yang sudah saya terapkan tersebut sudah terasa pada anak pertama saya yang saat ini berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 SD.
Dia sudah sering membeli barang yang dia impikan dengan uangnya sendiri. Malah jarang saya subsidi. Anak kedua saya (8 tahun) pun demikian.
Dan... jangan sangka uang saku mereka banyak lho ya. Anak pertama saya uang sakunya 10K perhari dan adiknya 5K perhari. Alhamdulillah mereka juga tidak suka jajan yang aneh-aneh. Mereka lebih memilih bekal yang saya bawakan. Mungkin hanya sesekali mereka jajan ke kantin dan itupun selalu lapor kepada saya 😄.
Oiya, kedua anak saya juga sudah menyukai bisnis. Mereka sudah bisa berdagang.
Si kakak dengan keterampilannya membuat prakarya semacam boneka jari, dompet koin, menggambar, membuat jepit rambut, sudah sering sekali menerima order terutama dari teman-teman adiknya.
Memang anak nomor dua saya sangat jago marketing, jadi konsumennya kebanyakan berasal dari teman-teman anak nomor dua ini.
Kolaborasi kakak dan adik lumayan memberikan efek ekonomi. Hasil dari penjualan mereka bagi dengan proporsi 60:40.
60% untuk si kakak
40% untuk si adik.
Makanya uang mereka banyak ya 😄
Uang yang mereka peroleh dari berdagang, angpao, dan hadiah dari sekolah tetap saya ingatkan untuk disisihkan untuk pos beramal. Bismillah...semoga mereka berdua istiqomah. Alasan yang saya sampaikan kepada mereka yang membuat mereka senang hati menyisihkan adalah:" ada hak orang lain di dalam rejeki yang kamu terima".
"Our thoughts become your words,
Your words become your actions,
Your actions become your habits,
Your habits become your values,
Your values become your destiny."
- Gandhi
* ditulis di Seoul- Korea Selatan
Menjadi orang yang cakap dalam mengelola keuangan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi memerlukan kebiasaan dan kedisiplinan yang sudah dibangun dalam waktu yang tidak sebentar, oleh karena itu mendidik anak mengenai keuangan sejak ia masih kecil akan sangat bermanfaat,agar ketika besar nanti mereka terbiasa mengelola keuangan mereka dengan baik.
Menciptakan sebuah habit pasti dibutuhkan kesabaran, ketelatenan namun kita sebagai orang tua harus terus semangat mewujudkannya.
Awalnya kita harus mengajarkan kepada anak sebuah konsep dasar bahwa untuk mendapatkan uang seseorang harus bekerja terlebih dahulu. Kita sampaikan kepada anak bahwa uang tidak datang dengan sendirinya dan pastinya kita harus sampaikan juga bahwa uang yang berkah adalah uang yang diperoleh dari imbalan aktivitas yang berkah juga. Sehingga disini sekaligus kita mengajarkan konsep makna pintu rejeki yang halal.
__
Berhubung anak belum bekerja, maka contoh pengaplikasian saya dalam pengenalan konsep uang kepada anak, yaitu pada saat memberi mereka uang saku, angpao lebaran ataupun hadiah lain saat anak memperoleh prestasi dibidang akademis maupun non akademis.
Saya memberi anak uang saku pada saat mereka masuk di Sekolah Dasar. Saya sampaikan kepada mereka bahwa uang saku adalah hadiah atau kontraprestasi ayah dan bunda karena mereka sudah menjadi anak besar yang pastinya siap belajar dengan metode yang berbeda dengan saat mereka masih di TK. Hadiah dari sebuah effort: rajin sekolah.
Saat ini uang saku masih saya berikan secara harian. Rencananya mereka baru saya beri secara mingguan saat masuk SMP.
Saya selalu sampaikan kepada anak-anak supaya mengelola uang saku tersebut dengan baik. Uang saku tersebut harus ada yang disisihkan untuk beramal, disisihkan untuk simpanan dan sisanya baru untuk jajan.
• Pos Beramal
Saya sangat bersyukur di sekolah anak-anak terdapat program tabungan Qurban. Jadi saya sampaikan kepada anak-anak, uang saku yang disisihkan untuk pos beramal bisa dititipkan ke sekolah.
Dan alhamdulillah anak-anak tertib hingga bulan Qurban tiba, saya tinggal menambah uang kekurangan untuk pembelian hewan Qurban tersebut.
Jika di sekolah anak-anak bunda tidak ada program ini, bunda bisa mengaplikasikan program ini di rumah.
Di sekolah anak saya, setiap anak disediakan buku untuk pencatatan setiap harinya. Sepertinya ini juga bisa dilakukan di rumah lho bund, agar semuanya bisa tercatat dengan baik 😉
• Pos Simpanan
Saya suka mengajak bicara anak-anak mengenai barang apa yang ingin mereka beli. Misal suatu ketika anak menyampaikan ingin membeli tas atau barang yang lain.
Nah, kami suka intip harga barang itu via google. Dari harga yang ada, saya sampaikan bahwa akan ada subsidi sekitar 25%-50% untuk membeli barang tersebut.
Anak-anak saya memiliki amplop khusus (bukan celengan) untuk menyimpan sisihan uang sakunya. Mereka sudah menganggarkan berapa rupiah tiap hari yang mesti mereka sisihkan agar tujuan barang yang ingin mereka beli setidaknya 50%-75% bisa mereka upayakan sendiri. Entah sampai berapa bulan akan terkumpul, kita support saja proses prihatin mereka ini.
•Pos Jajan
Untuk mengakali supaya sisa uang saku tidak digunakan sepenuhnya untuk jajan. Saya sengaja membawakan bekal kue dari rumah. Selain uang untuk jajan bisa dihemat dan bisa dimasukkan ke pos dana amal ataupun pos dana simpanan, saya juga lebih yakin akan kesehatan dan kandungan nutrisi yang terkandung dalam jajan yang dikonsumsi anak-anak. Alias kualitas jajan mereka lebih bisa saya kontrol.
__
Efek dari habit yang sudah saya terapkan tersebut sudah terasa pada anak pertama saya yang saat ini berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 SD.
Dia sudah sering membeli barang yang dia impikan dengan uangnya sendiri. Malah jarang saya subsidi. Anak kedua saya (8 tahun) pun demikian.
Dan... jangan sangka uang saku mereka banyak lho ya. Anak pertama saya uang sakunya 10K perhari dan adiknya 5K perhari. Alhamdulillah mereka juga tidak suka jajan yang aneh-aneh. Mereka lebih memilih bekal yang saya bawakan. Mungkin hanya sesekali mereka jajan ke kantin dan itupun selalu lapor kepada saya 😄.
Oiya, kedua anak saya juga sudah menyukai bisnis. Mereka sudah bisa berdagang.
Si kakak dengan keterampilannya membuat prakarya semacam boneka jari, dompet koin, menggambar, membuat jepit rambut, sudah sering sekali menerima order terutama dari teman-teman adiknya.
Memang anak nomor dua saya sangat jago marketing, jadi konsumennya kebanyakan berasal dari teman-teman anak nomor dua ini.
Kolaborasi kakak dan adik lumayan memberikan efek ekonomi. Hasil dari penjualan mereka bagi dengan proporsi 60:40.
60% untuk si kakak
40% untuk si adik.
Makanya uang mereka banyak ya 😄
Uang yang mereka peroleh dari berdagang, angpao, dan hadiah dari sekolah tetap saya ingatkan untuk disisihkan untuk pos beramal. Bismillah...semoga mereka berdua istiqomah. Alasan yang saya sampaikan kepada mereka yang membuat mereka senang hati menyisihkan adalah:" ada hak orang lain di dalam rejeki yang kamu terima".
"Our thoughts become your words,
Your words become your actions,
Your actions become your habits,
Your habits become your values,
Your values become your destiny."
- Gandhi
* ditulis di Seoul- Korea Selatan



Komentar
Posting Komentar