Children See, Children Do

Children See, Children Do



Yup, anak adalah pengcopy ulung. Anak lebih mengikuti contoh perbuatan yang dilakukan orangtua dan lingkungan sekitarnya, bukan mendengarkan nasihat dan kata-kata. Padahal kita, para mama sangat hobi ngomel tanpa koma bahkan titik 🤭

Nasihat dan kata-kata orangtua memang didengarkan oleh anak, tapi itu hanya sepersekian persen. Yang lebih berpengaruh sebenarnya adalah keteladanan kita sebagai orangtua. Sebagai misal membuang sampah sembarangan, berkata-kata kasar, bullying, berlaku curang, tidak patuh peraturan, hidup yang hedonis adalah beberapa contoh masalah yang sering diatributkan pada anak.


Contoh sederhana yang baru kemarin saya alami, ada seorang ibu mengendarai sepeda motor di jalan raya dengan membawa dua anak kecilnya. Satu anak sekitar usia 5 tahun duduk di belakang si ibu dan satu anak duduk di depan berusia sekitar 3 tahun. Ketiganya tidak memakai helm. Sedihnya lagi pada saat lampu merah menyala, si ibu bukannya menghentikan kendaraan, tapi sebaliknya, dia melaju kencang menerobos lampu merah tersebut.
Mungkin kedua anaknya belum paham mengenai makna warna lampu lalu lintas. Tapi... si anak akan mengkaji dari sudut pandang yang lain. Anak akan melihat saat lampu menyala merah kendaraan lain pada berhenti dan ibuku mengajarkan kepadaku bahwa lampu merah yang menyala bagi kita tidak harus berhenti. Kita boleh jalan terus serta bebas tidak memakai helm.
Itulah yang mereka rekam dan akan mereka putar ulang saat mereka beranjak dewasa. Terlebih jika perilaku itu dilakukan tidak hanya sekali, maka otak mereka akan merepetisi rekaman itu dan akhirnya akan menjadi habit di masa mendatang. Maka... rekaman inilah yang akan mementahkan jika suatu saat si anak diajarkan tentang tata tertib berlalu lintas karena mereka sudah diajarkan sebuah pembenaran oleh ibunya sendiri.

Bagaimana pula dengan pengajaran tentang cinta kasih kepada sesama?
Benar, tetap keluargalah sebagai tempat pertama untuk menggodoknya.
Keluarga adalah school of love. Di dalam keluarga, kita sebagai orang tua harus memberi teladan bagaimana menyayangi seluruh anggota keluarga, menghormati yang lebih tua, tidak berkata kasar, melindungi, tidak membeda-bedakan, berbuat jujur, saling mengisi, menghargai nilai-nilai kesopanan, dan banyak hal positif lainnya.

Lalu bagaimana dengan pengaruh lingkungan?
Yang pertama adalah lingkungan sekolah yang notabene anak-anak menghabiskan waktunya minimal 4 sampai 7 jam bahkan lebih untuk full day school.
Apakah anak-anak juga akan merekam apa yang mereka lihat?
Absolutely yes. They will capture all they see.
Dari perilaku dan ucapan guru, perangkat sekolah dan teman-temannya. Maka...kita harus selektif dalam memilih sekolah agar nilai-nilai positif yang kita tanamkan di rumah tidak sia-sia karena pengaruh lingkungan sekolah.

Selanjutnya adalah lingkungan masyarakat.
Setiap anak memilik sifat, kepribadian serta cara bersosialisali yang beragam dalam masyarakat, cara bersosialisasi tersebut tergantung dengan siapa ia berteman baik di masyarakat dan siapa yang akan mereka jadikan panutan. Perilaku teman baik atau buruk, sedikit banyak akan berpengaruh dalam perkembangan mereka ataupun perilaku yang biasa terjadi di lingkungan masyarakat tempat si anak berada akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang perilakunya. Saat ini banyak anak kecil yang berkata kasar bahkan kurang menghormati orang tua ada juga gerombolan anak kecil yang sehobi bermain gadget tanpa ada batasan waktu dari orang tua.
Disaat orang tua membiarkan perilaku ini, maka mereka akan terus menumbuhkan perilaku ini hingga dewasa.

Dalam konteks ini keluarga adalah lingkungan yang utama, anggota keluarga harus mampu menetralkan serta memberikan arahan yang benar tentang pengaruh lingkungan dan norma-norma yang berlaku.Hal ini karena keluarga dapat memberikan pengaruh kuat dan sifatnya langsung berkenaan dengan aspek-aspek perkembangan perilaku anak. So... kita dan suami harus kompak dalam mendidik anak. Jangan sampai mama melarang agar si anak tidak melakukan sesuatu, namun ayah malah membolehkan. Ketidakompakan ini akan menjadi pemicu sifat ambigu anak.

Perkembangan moral anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan keluarganya, oleh karena itu ketika kejujuran, keikhlasan dan gotong royong kerap ditunjukkan oleh masing-masing anggota keluarga, maka dengan sendirinya anak tersebut akan melakukan hal yang sama. Sebaliknya jika anggota keluarga menerapkan perilaku tidak baik seperti berkata bohong, mencuri, berkata kotor dan lain sebagainya anak juga akan lebih cepat menyerap hal itu sehingga moral merekapun menjadi tidak baik.

Anak-anak adalah perekam ulung, apapun yang mereka lihat akan mereka rekam dengan baik. Menjadi orang tua memang tidak mudah, kita diwajibkan untuk terus belajar sepanjang masa. Memberikan tauladan, terus siaga dalam menetralkan pengaruh-pengaruh negatif yang terlanjur terpapar ke anak-anak kita merupakan suatu keharusan.


Bagaimana dengan saya?
Yup, hingga detik ini saya masih terus belajar. Saya dan suami berusaha kompak dalam memantau perkembangan anak. Kami baru dalam taraf memberikan tauladan-tauladan kecil nan sederhana.
Semoga hasilnya kelak dapat kami petik, yaitu anak-anak kami tumbuh menjadi anak yang bahagia, penuh cinta kasih, taat peraturan dan tentunya menjadi makhluk yang selalu takut kepada Tuhan.
Aamiin...aamiin yra.


"Children are great imitators. So give them something great to imitate.”  — Anonymous

* ilustrasi gambar dari google

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Manners dalam Pertemanan

Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim

Investasi Untuk Generasi Milenial