Mempersiapkan Dana Darurat
Mempersiapkan Dana Darurat
Hallo Moms...
Apa kabar?
Semoga kita semua dalam keadaan sehat.
Di tengah tantangan kita dalam menghadapi pandemi Covid19 ini selain berusaha melawan kebosanan karena mesti #stayathome, ada tantangan financial yang super menguji kekuatan kita karena kita harus mengatur strategi bagaimana memetakan pendapatan yang (bisa jadi) saat ini dirasakan jamak oleh banyak orang: pendapatan tergerus hanya tinggal 30% atau bahkan (nyaris) loss.
Yup, benar-benar nyali kita akan ditempa sampai beberapa bulan nanti. Bismillah kita bisa melampauinya ya ðĪē
__
Relevan dengan kondisi ini, apakah Moms selama ini sudah memiliki pos Dana Darurat?
Tidak dipungkiri sebagian besar dari kita akan bersikap antisipatif ketika suatu hal sudah terjadi, bukan saat jauh-jauh hari sebelum terjadi. Yaitu kita akan mulai berpikir untuk mempersiapkan dana darurat setelah keuangan kita benar-benar berada dalam keadaan genting.
Dan...sayangnya, mengumpulkan uang untuk mempersiapkan dana darurat memang tidaklah mudah, bahkan bisa dibilang lumayan rumit, terutama karena banyaknya pengeluaran lain yang harus dipenuhi dan pastinya banyak godaan-godaan lain yang pada akhirnya membuat kita lengah hingga melupakan bahwa pos ini harus terus kita persiapkan karena masa depan penuh dengan ketidakpastian.
Moms, tidak ada kata terlambat. Dengan adanya kejadian pandemi ini, nanti setelah semuanya kembali normal, mari kita belajar untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan.
Kembali pada formula yang sudah saya sampaikan di topic tulisan saya sebelumnya, yaitu sisihkan minimal 10% pendapatan untuk tabungan ataupun investasi.
Nah, minimal 10% ini bisa menjadi acuan bahwa kita jangan mematok diangka minimal untuk pos ini. Jika kita memiliki pendapatan lebih, tingkatkan prosentase untuk pos ini karena kita harus ingat bahwa tabungan kita harus ada unsur pos Dana Darurat-nya. Tekan pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak perlu alias pengeluaran yang hanya mengikuti hasrat semata. Tarik nafas panjang jika muncul tawaran seperti sepatu, tas, baju dan barang-barang yang sifatnya konsumtif lainnya. Atau jika memang belum ada budget untuk belanja barang-barang tersebut, sebaiknya kita tahan godaan ini. Kita harus ingat bahwa jangkauan hidup kita ke depan masih sangat panjang dan semua pastinya butuh perencanaan.
Kita harus ingat dana darurat atau emergency fund adalah payung kita. Saving for the rainy day, itulah fungsi dari keberadaan dana darurat. Supaya kelak jika ada keadaan yang mengejutkan, kita sudah siap sehingga kita dapat meminimalkan keluhan dan endingnya keadaan keuangan keluarga kita tetap bisa terselamatkan.
Bagaimana mempersiapkan Dana Darurat?
Yup, awalnya kita harus mempersiapkan target jumlah dana darurat.
Menurut pakar perencana keuangan, untuk para single atau yang belum menikah, besarnya jumlah dana darurat yang harus dipersiapkan sekitar sebesar 6 bulan dari jumlah pengeluarannya. Sementara untuk yang sudah berumah tangga yaitu sekitar 9 hingga 12 bulan dari jumlah pengeluaran.
Kategori pengeluaran disini adalah pengeluaran-pengeluaran pokok yang sifatnya prioritas, seperti kebutuhan akan makan, pendidikan anak, bayar listrik dan pengeluaran rutin lainnya yang kiranya jika kita tidak keluarkan setiap bulannya maka akan mengganggu kelangsungan hidup kita.
Jadi kategori ini tidak termasuk pengeluaran seperti hangout dan shopping.
Jika semisal pengeluaran sebuah keluarga sebesar Rp. 5 juta dalam sebulan dan pendapatan keluarga itu dalam sebulan sebesar Rp.15 juta. Maka jumlah dana darurat yang harus ada adalah sebesar (minimal) Rp.45 juta.
Waah...besar sekali....ðĪŠ
Moms, dana darurat tersebut bisa diperoleh dengan cara dialokasikan,disisihkan jika kita memang belum mampu menyediakan jumlah itu secara gelondongan.
Beberapa alternatif yang bisa dilakukan yaitu dengan membuka rekening tabungan berjangka, yang mana tiap bulan saldo rekening kita akan autodebet terpotong sehingga target jumlah dana itu bisa kita lampaui dalam kurun waktu 12 bulan,36 bulan atau berapa bulan lainnya, yang tentunya kita sesuaikan dengan kemampuan pendapatan bulanan kita.
Alternatif produk-produk lain yang bisa kita gunakan untuk pos dana darurat adalah emas, deposito dan reksa dana pasar uang.
Untuk emas, saya sarankan untuk memilih emas batangan bukan perhiasan, mengingat tidak ada ongkos yang dikeluarkan saat kita menjualnya, pun harganya relatif sama disemua toko karena kita memiliki sertifikatnya.
Oiya, emas batangan dengan gram-an mungilpun (1 gr) juga ada sehingga tidak ada alasan untuk me-skip produk ini dari list investasi keluarga kita.
Kita harus ingat bahwa emas adalah aset lindung nilai (hedge) yang selalu menarik, meskipun naiknya pelan tapi cukup istiqomah.
Moms, inti dari produk-produk keuangan yang dapat digunakan untuk persiapan dana darurat adalah yang harus mudah diambil, aman dan tidak bersifat spekulatif.
Dan jika kita sudah memiliki dana darurat, jangan lupa untuk melakukan evaluasi, jumlahnya harus kita sesuaikan dengan tingkat inflasi yang ada.
__
Moms, jika kita memiliki kebiasaan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran, maka kita bisa melihat catatan tersebut dan mengevaluasi bagaimana manajemen keuangan kita selama ini.
Dari catatan-catatan tersebut, kita akan dapat mereview kebutuhan mana yang bisa ditekan pengeluarannya. Karena memahami kondisi keuangan sendiri memang sangat penting sehingga kita bisa makin wise dalam membelanjakan penghasilan yang kita miliki.
Memang tidak mudah mengubah cara manajemen keuangan sehari-hari jika belum terbiasa. Namun, kita tidak perlu khawatir karena kita bisa memulainya secara perlahan dan dari hal yang kecil. Yang terpenting kita harus selalu ingat bahwa hidup kita harus ada tujuannya, yaitu hidup sejahtera dan dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Semoga Allah selalu memberikan perlindungan kepada kita semua.
Stay healthy, be happy, and be a smart mom as always ð
** ilustrasi gambar dari google
Apa kabar?
Semoga kita semua dalam keadaan sehat.
Di tengah tantangan kita dalam menghadapi pandemi Covid19 ini selain berusaha melawan kebosanan karena mesti #stayathome, ada tantangan financial yang super menguji kekuatan kita karena kita harus mengatur strategi bagaimana memetakan pendapatan yang (bisa jadi) saat ini dirasakan jamak oleh banyak orang: pendapatan tergerus hanya tinggal 30% atau bahkan (nyaris) loss.
Yup, benar-benar nyali kita akan ditempa sampai beberapa bulan nanti. Bismillah kita bisa melampauinya ya ðĪē
__
Relevan dengan kondisi ini, apakah Moms selama ini sudah memiliki pos Dana Darurat?
Tidak dipungkiri sebagian besar dari kita akan bersikap antisipatif ketika suatu hal sudah terjadi, bukan saat jauh-jauh hari sebelum terjadi. Yaitu kita akan mulai berpikir untuk mempersiapkan dana darurat setelah keuangan kita benar-benar berada dalam keadaan genting.
Dan...sayangnya, mengumpulkan uang untuk mempersiapkan dana darurat memang tidaklah mudah, bahkan bisa dibilang lumayan rumit, terutama karena banyaknya pengeluaran lain yang harus dipenuhi dan pastinya banyak godaan-godaan lain yang pada akhirnya membuat kita lengah hingga melupakan bahwa pos ini harus terus kita persiapkan karena masa depan penuh dengan ketidakpastian.
Moms, tidak ada kata terlambat. Dengan adanya kejadian pandemi ini, nanti setelah semuanya kembali normal, mari kita belajar untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan.
Kembali pada formula yang sudah saya sampaikan di topic tulisan saya sebelumnya, yaitu sisihkan minimal 10% pendapatan untuk tabungan ataupun investasi.
Nah, minimal 10% ini bisa menjadi acuan bahwa kita jangan mematok diangka minimal untuk pos ini. Jika kita memiliki pendapatan lebih, tingkatkan prosentase untuk pos ini karena kita harus ingat bahwa tabungan kita harus ada unsur pos Dana Darurat-nya. Tekan pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak perlu alias pengeluaran yang hanya mengikuti hasrat semata. Tarik nafas panjang jika muncul tawaran seperti sepatu, tas, baju dan barang-barang yang sifatnya konsumtif lainnya. Atau jika memang belum ada budget untuk belanja barang-barang tersebut, sebaiknya kita tahan godaan ini. Kita harus ingat bahwa jangkauan hidup kita ke depan masih sangat panjang dan semua pastinya butuh perencanaan.
Kita harus ingat dana darurat atau emergency fund adalah payung kita. Saving for the rainy day, itulah fungsi dari keberadaan dana darurat. Supaya kelak jika ada keadaan yang mengejutkan, kita sudah siap sehingga kita dapat meminimalkan keluhan dan endingnya keadaan keuangan keluarga kita tetap bisa terselamatkan.
Bagaimana mempersiapkan Dana Darurat?
Yup, awalnya kita harus mempersiapkan target jumlah dana darurat.
Menurut pakar perencana keuangan, untuk para single atau yang belum menikah, besarnya jumlah dana darurat yang harus dipersiapkan sekitar sebesar 6 bulan dari jumlah pengeluarannya. Sementara untuk yang sudah berumah tangga yaitu sekitar 9 hingga 12 bulan dari jumlah pengeluaran.
Kategori pengeluaran disini adalah pengeluaran-pengeluaran pokok yang sifatnya prioritas, seperti kebutuhan akan makan, pendidikan anak, bayar listrik dan pengeluaran rutin lainnya yang kiranya jika kita tidak keluarkan setiap bulannya maka akan mengganggu kelangsungan hidup kita.
Jadi kategori ini tidak termasuk pengeluaran seperti hangout dan shopping.
Jika semisal pengeluaran sebuah keluarga sebesar Rp. 5 juta dalam sebulan dan pendapatan keluarga itu dalam sebulan sebesar Rp.15 juta. Maka jumlah dana darurat yang harus ada adalah sebesar (minimal) Rp.45 juta.
Waah...besar sekali....ðĪŠ
Moms, dana darurat tersebut bisa diperoleh dengan cara dialokasikan,disisihkan jika kita memang belum mampu menyediakan jumlah itu secara gelondongan.
Beberapa alternatif yang bisa dilakukan yaitu dengan membuka rekening tabungan berjangka, yang mana tiap bulan saldo rekening kita akan autodebet terpotong sehingga target jumlah dana itu bisa kita lampaui dalam kurun waktu 12 bulan,36 bulan atau berapa bulan lainnya, yang tentunya kita sesuaikan dengan kemampuan pendapatan bulanan kita.
Alternatif produk-produk lain yang bisa kita gunakan untuk pos dana darurat adalah emas, deposito dan reksa dana pasar uang.
Untuk emas, saya sarankan untuk memilih emas batangan bukan perhiasan, mengingat tidak ada ongkos yang dikeluarkan saat kita menjualnya, pun harganya relatif sama disemua toko karena kita memiliki sertifikatnya.
Oiya, emas batangan dengan gram-an mungilpun (1 gr) juga ada sehingga tidak ada alasan untuk me-skip produk ini dari list investasi keluarga kita.
Kita harus ingat bahwa emas adalah aset lindung nilai (hedge) yang selalu menarik, meskipun naiknya pelan tapi cukup istiqomah.
Moms, inti dari produk-produk keuangan yang dapat digunakan untuk persiapan dana darurat adalah yang harus mudah diambil, aman dan tidak bersifat spekulatif.
Dan jika kita sudah memiliki dana darurat, jangan lupa untuk melakukan evaluasi, jumlahnya harus kita sesuaikan dengan tingkat inflasi yang ada.
__
Moms, jika kita memiliki kebiasaan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran, maka kita bisa melihat catatan tersebut dan mengevaluasi bagaimana manajemen keuangan kita selama ini.
Dari catatan-catatan tersebut, kita akan dapat mereview kebutuhan mana yang bisa ditekan pengeluarannya. Karena memahami kondisi keuangan sendiri memang sangat penting sehingga kita bisa makin wise dalam membelanjakan penghasilan yang kita miliki.
Memang tidak mudah mengubah cara manajemen keuangan sehari-hari jika belum terbiasa. Namun, kita tidak perlu khawatir karena kita bisa memulainya secara perlahan dan dari hal yang kecil. Yang terpenting kita harus selalu ingat bahwa hidup kita harus ada tujuannya, yaitu hidup sejahtera dan dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Semoga Allah selalu memberikan perlindungan kepada kita semua.
Stay healthy, be happy, and be a smart mom as always ð
** ilustrasi gambar dari google




Thanks ma'am... ðððð
BalasHapus