Berlatih Mengelola Gaji Pertama


Wow...rasanya benar-benar plong ketika lulus kuliah lalu curiculum vitae laku alias lamaran pekerjaan yang kita propose akhirnya berhasil guna.

Terlebih setelah tanda tangan surat perjanjian kerja yang mana disana pasti tertera nominal rupiah yang bakal kita terima setiap bulan sebagai kontraprestasi pekerjaan kita.
What a wonderful world pokoknya 😄

Naah...lalu apa yang terlintas menjelang detik-detik tanggal gajian tiba?
Disaat jantung mulai berdesir menerima gaji pertama, apakah disaat yang sama juga terlintas kebahagiaan karena akan segera merealisasikan impian yang selama ini tertunda, sebagai misal ingin membeli barang-barang fashion branded, ingin membeli gadget termutakhir, ingin makan di restoran idaman, ingin membeli kosmetik brand luar negeri, ingin membeli kendaraan, ingin menabung, ingin punya deposito, ingin membeli logam mulia, dan masih banyak lagi.

Nah, kira-kira apa yang ingin diraih ketika menerima gaji pertama?
Apakah ingin memanjakan diri dengan belanja barang-barang konsumtif ataukah ingin merangkai masa depan yang lebih baik dengan cara fokus membelanjakan gaji tersebut untuk membeli aset-aset produktif.

Semua itu merupakan pilihan. Namun alangkah disayangkan jika hasil jerih payah kita selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun nantinya akan bermuara pada barang-barang yang valuenya akan berkurang bahkan hilang.


Ada yang bilang: " Gaji pertama ya untuk pesta, untuk perayaan, untuk happy-happy "

Tanpa kita sadari, pernyataan ini nantinya akan menjadi sebuah boomerang untuk kita. Mengapa?
Karena sekali saja kita lengah (meng-iya-kan pernyataan itu), maka secara spontan, otak kita akan membuat sebuah afirmasi bahwa: Ya, itu benar, yuk gaji dihabiskan saja, kita happy-happy. Yang lain dipikirkan nanti.

Dan...finally....perilaku ini akan menjadi kebiasaan karena kita semakin " keenakan" terbuai untuk menghabiskan gaji kita hanya untuk senang-senang.
Lalu, apa kabar masa depan?
Apakah kita puas hanya seolah-olah punya gaji tapi saldo rekening kita belum sampai menjelang tanggal gajian berikutnya, saldo hanya tinggal Rp.100.000,- dan begitu seterusnya.
Apakah nantinya kita tidak ingin menikah?
Apakah saat ini masih pantas meminang gadis idaman dengan kalimat: " Maukah kamu menikah denganku dan kita start dari zero karena aku belum punya apa-apa, tapi aku punya cinta yang tulus kepadamu? "

Kira-kira pernyataan pinangan seperti di atas di jaman yang serba digital ini, masih relevan kah?
Jika ada perempuan yang menjawab mau, saya salut sekali, karena setelah menikah nanti, modal hanya "cinta" tadi pasti akan menjadi fatamorgana karena untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga bukan hanya butuh cinta.

Saya rasa wajar jika perempuan berpikir materialistik, karena perempuan pasti berpikir jauh. Dia ingin anak-anaknya kelak hidup bahagia dengan jaminan kesehatan dan pendidikan yang jauh dari kata layak dibandingkan apa yang diperoleh dirinya dahulu.

So...wejangan saya di atas khusus untuk para pria. Kira-kira sejauh ini sudah punya apa saja?
Sudah siap meminang gadis idaman, please deh jangan cuma bilang: aku punya cinta 😄

Nah, demikian juga untuk para teman-teman perempuan. Jangan sampai gaji hanya habis untuk beli pakaian, aksesoris, gadget, sepatu dan tas. Mari kita ubah mindset, perempuanpun harus jago mengelola keuangan. Harus bisa menyisihkan gaji untuk memperbanyak koleksi barang-barang produktif. Coba setiap habis gajian, mainnya ke toko emas. Belilah logam mulia meskipun baru gram yang terkecil (0,05gr). Selain itu bisa juga membuka tabungan berjangka atau mencoba berinvestasi dalam bentuk reksadana berjangka agar gaji tiap bulan bisa langsung diauto debet bank dan akhirnya aset produktif kita akan semakin bertambah.

Tidak ada yang salah belajar mengelola keuangan sendiri dulu sebelum nantinya menjadi seorang istri yang pastinya akan dihadapkan dengan pengelolaan keuangan rumah tangga yang lebih pelik. Bukannya saya menakut-nakuti lho ya...
Tapi menikah merupakan adventure yang sangat legit, seperti naik roller coaster. Marriage is a real life, it's not a fantasy.


Waah...prolog saya ternyata panjang sekali...
Okay...supaya tidak semakin panjang, berikut saya sampaikan beberapa tips agar gaji pertama teman-teman singgah ke tempat yang aman, yang nantinya akan keterusan sehingga portofolio aset produktif teman-teman semakin tebal:

1. Segera buat goal setting (Tujuan Keuangan)
Menurut Goal-setting Theory:
Goal setting adalah proses menetapkan sasaran bagi diri kita. Goal yang lebih terinci dan berada di bawah kendali kita cenderung memunculkan usaha yang lebih besar daripada goal yang bersifat lebih umum.
Nah...segera buat tujuan keuangan baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
• Tujuan jangka pendek: jika ingin dicapai dalam kisaran waktu 1-3 tahun.
• Tujuan jangka menengah: jika ingin dicapai dalam kisaran 4-5 tahun
• Tujuan jangka panjang: jika ingin diraih dalam kisaran lebih dari 5 tahun.

Salah satu contoh tujuan keuangan jangka pendek, misal: ingin memiliki saldo tabungan sebesar Rp.12.000.000,- dalam jangka waktu 12 bulan karena ingin membeli motor secara cash, karena memang benar-benar butuh motor untuk sarana transportasi. Meskipun motor bukan termasuk aset produktif, namun karena kita tidak punya pilihan sarana transportasi lain, daripada naik angkot, maka motor bisa diprioritaskan dulu. Disini saran saya, belilah kendaraan secara cash, semampunya, sepunya dana yang kita miliki. Jangan sampai berhutang karena kita tahu harga motor makin lama akan makin turun, sehingga value nya tidak worth it jika dibandingkan dengan nominal cicilan. Dengan kata lain, disaat jangka waktu pinjaman belum usai, harga motor yang kita miliki sudah tidak senilai dengan harga awal saat kita beli. Sayang khan kalau sampai berhutang??

2. Susun strategi
Buatlah pos² anggaran.Ingat dengan rumusan alokasi pendapatan yang sudah saya sampaikan di topik tulisan saya sebelumnya:
Sisihkan minimal 2,5% = sedekah
Sisihkan minimal 10% = simpanan ataupun investasi
Maksimal 30% = Utang (optional, sebaiknya masih single jangan punya utang)
Sisa = Kebutuhan hidup

Rumusan alokasi penghasilan tersebut selalu saya ulang-ulang di topik apa saja, karena saya ingin remind jika rumusan ini tidak boleh dibolak-balik. Urutan terakhir haruslah kebutuhan hidup, karena kalau kebutuhan hidup diletakkan di urutan teratas, maka dapat dipastikan kita tidak akan pernah berhasil untuk menyisihkan gaji kita untuk bersedekah dan memiliki simpanan ataupun investasi lain dengan jumlah yang optimal.

Kebutuhan hidup harus menyesuaikan sisa dana setelah dikurangi pos-pos di atasnya.
Nanti hidup kita menderita dong...
Masa seorang single, kita tidak boleh happy, tidak boleh mengkilap bin bling-bling???

Yup, semua adalah pilihan. Ingin tampak glamour tapi ternyata portofolio investasi zonk, ataukah tampak humble tapi sebenarnya aset tebel.
But...sebenarnya kalau kita dapat mengelola gaji dengan baik, kita masih bisa kok tampil keren. Di sini yang saya maksud bukan ke tampilan glamour, hedon, melainkan kita akan tampak elegan karena pola pikir sudah menuju ke masa depan.

3. Buat catatan pengeluaran
Dapat dipastikan untuk teman-teman pria, mencatat merupakan kegiatan yang tidak asik, karena kebanyakan tidak telaten dengan kegiatan ini. Makanya jurusan Akuntansi banyak didominasi oleh kaum perempuan 😄.
Duh...ngomongin gender deh...
At least untuk para pria single, buatlah catatan sesimple yang kalian bisa buat, yang setidaknya teman-teman tahu kemana saja gaji itu digunakan.

Nah...inilah maksud kenapa kita perlu membuat catatan pengeluaran. Tujuannya yaitu untuk mereview dan semakin meneguhkan komitmen anggaran.
Jika tidak punya catatan, bagaimana kita bisa menelusur aliran gaji?
Nanti kalau tiba-tiba gaji tinggal Rp.100.000,- dan tidak punya catatan, apakah otak kita mampu merekam begitu banyak aktivitas yang terjadi?
Milikilah sebuah buku untuk corat coret angka. Terlebih sudah mengaplikasikan rumusan alokasi penghasilan bin punya buku catatan pengeluaran, insyaAllah keuangan kita akan semakin tertata. Kita akan semakin fokus ingin meraih impian-impian kita untuk masa depan.

4. Gaji naik, Bonus datang, bukan untuk senang-senang.
Biasanya setelah 3 bulan masa percobaan (probation period), teman-teman akan mendapatkan perubahan nominal gaji. Dan...nantinya teman-teman juga akan mendapatkan bonus, entah bonus karena kinerja ataupun bonus tahunan. Belum lagi dapat THR. Pokoknya banyak deh. Kira-kira dalam setahun, hitungan gajian yang kita terima bukan hanya 12x. Tapi bisa sampai 14-16x gaji.

Nah, jika penghasilan bertambah atau mendapatkan bonus. Ingat rumusan alokasi penghasilan poin 1 dan 2 (sedekah, simpanan & investasi)-lah yang mesti ditambah.
Duh...padahal sudah pengen senang-senang lho...Kok balik lagi untuk poin 1 dan 2???
Tenang....kita tetap bisa senang-senang kok..
Ini dia tips yang terakhir, pasti bikin happy 😍

5. Jangan lupa bahagia
Yup, dengan menerapkan alokasi penghasilan sesuai pos-posnya, bukan berarti hidup kita menderita, tidak gaul, tidak cling.
Pengelolaan keuangan dimaksudkan agar keuangan kita menjadi terarah, tertata dan pastinya bermuara ke penambahan aset produktif, bukan hanya happy-happy dan berujung ke hal-hal konsumtif saja.
Dengan sebuah perencanaan keuangan yang matang, bukan membuat kita hidup pelit, tapi hidup kita akan lebih cermat dan bersahaja.
Nah...agar kita tetap bahagia, kita mesti punya Pos dana lifestyle atau dana entertaintment yang nominalnya: Maksimal 10% dari gaji. Pos ini ditujukan agar kita bisa memberikan self-reward terhadap jerih payah selama bekerja.
Pos ini bisa dipakai untuk kongkow dengan teman-teman, bisa untuk beli kebutuhan fashion, bisa untuk nonton film kesukaan, ataupun bisa untuk membeli peralatan untuk penyaluran hobby.

Berhubung nominalnya dibatasi maksimal 10% dari gaji setiap bulannya, maka teman-teman bisa jadi belum dapat memenuhi kebutuhan life style tersebut secara keseluruhan dalam satu waktu. Di sinilah teman-teman teruji mentalnya karena sangat dibutuhkan pengendalian diri. Jangan sampai memaksakan diri untuk mengejar pemenuhan kebutuhan life style karena biasanya akan berujung pada: Utang. Bisa jadi gesek kartu kredit.
Duh...serem deh, terlebih nantinya bayar kartu kredit pakai sistem minimum payment. Ini dia penyakit yang suka menulari kaum single. Dikit-dikit gesek.

Perilaku ini kuatirnya akan menjadi kebiasaan yang dibawa sampai nanti sudah menikah. Please....jangan sampai ya, karena masalah keuangan akan menjadi trigger sebuah percekcokan pasangan suami-istri.


Yup... itulah 5 tips dari saya. Tidak ribet kok. InsyaAllah jika kita niat, semua akan berjalan smoothly. Dan kembali saya sampaikan bahwa pengelolaan keuangan merupakan sebuah PILIHAN.
So, which one will you choose, life in true happiness or in fake one?

Happiness is something that we all want in our lives.

Hidup bukan untuk mengejar uang, tapi untuk hidup, untuk memperbanyak sedekah, untuk memiliki simpanan, memiliki investasi, untuk naik haji, untuk memiliki tingkat kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Semua perlu uang. Tuhan meminta kita untuk berikhtiar semaksimal mungkin untuk mewujudkan, yang pastinya dengan jalan yang berkah dan barokah.
Keep on fighting 👌🏻

* ilustrasi gambar dari google
* versi video on momida channel




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Manners dalam Pertemanan

Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim

Investasi Untuk Generasi Milenial