Banyak orang menyampaikan bahwa mengelola keuangan keluarga merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.
Mereka beranggapan bahwa keluarga dengan penghasilan besarlah yang akan mudah melakukan pengelolaan keuangan keluarganya.
Moms, yuk kita ubah mindset ini.
Kemakmuran dan kesejahteraan sebuah keluarga, serta keberhasilan mereka dalam hal financial, bukan diukur oleh besar kecilnya penghasilan yang mereka peroleh, tapi keberhasilan itu disebabkan oleh komitmen mereka dalam meraih tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang financial yang sudah mereka tetapkan.
Sebagai misal sebuah keluarga menetapkan salah satu tujuan jangka pendek yaitu selama 12 bulan ingin mengumpulkan uang sebesar Rp.3.000.000,- untuk mempersiapkan membeli hewan Qurban pada saat Idul Adha tiba.
Jika kita bagi selama 12 bulan, maka keluarga itu harus menyisihkan penghasilannya sebesar Rp.250.000,-perbulan atau sebesar Rp.8.300,- perhari.
Bagaimana Moms, hanya sebesar Rp.8.300,- perhari. Nominal ini masih lebih murah dibanding dengan harga minuman bubble yang sedang ngetrend, bahkan sangat jauh lebih murah dibanding dengan harga secangkir kopi yang berlogo wanita bermahkota dengan warna khas hijaunya.
Dan...lebih parahnya lagi jika kita nongkrong di kedua tempat minuman itu sembari ngemil yang pastinya kita tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar. Alhasil sekali nongkrong bisa keluar uang nyaris Rp.100.000,- itupun jika kita perginya seorang diri, bagaimana dengan suami dan anak-anak? Apakah kita tega meninggalkan mereka di rumah?
Moms, ini hanya secuil contoh jika kita terlena tidak memiliki tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang dalam hal financial untuk keluarga.
Sudah saatnya kita bersama suami serta melibatkan anak-anak untuk membuat list mengenai apa saja yang ingin keluarga kita capai. Setelah tujuan-tujuan keuangan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah membuat strategi bagaimana untuk meraihnya.
Strategi ini akan kita aktualisasikan dalam bentuk anggaran. Kita atur sedemikian rupa penghasilan keluarga dalam pos-pos berdasarkan skala prioritas.
 |
Kita kembali ke contoh di atas. Saat kita ingin memperoleh dana sebesar Rp.3.000.000,- untuk persiapan membeli hewan Qurban, maka moms harus komit menyisihkan terlebih dahulu sebesar Rp.250.000,- dari penghasilan perbulan untuk ditabung. Ingat ya moms, nominal Rp.250.000,- perbulan ini hanya sebesar Rp.8.300,- perhari. Jadi jangan cuma melihat angka bulanannya yang mungkin membuat kita serasa ngos-ngosan.Nah, moms bisa memanfaatkan produk bank yang berlabel tabungan berjangka untuk mengamankan sisihan dana bulanan tersebut karena jika kita taruh saja di tabungan biasa, bisa dimungkinkan jari ini menjadi usil untuk mencet PIN ATM dan alhasil saldo menjadi terkikis sehingga tujuan tidak bisa kita capai. Moms, semua memang harus direncanakan. Keberhasilan financial keluarga tidak bisa dibiarkan let it flow saja. Jangan pernah menunggu punya banyak uang dulu baru kemudian menabung. Jangan menunggu bonus dulu baru kemudian berinvestasi. Ubahlah cara berpikir bahwa kita harus sisihkan dulu penghasilan keluarga minimal 10% perbulan untuk pos simpanan ataupun investasi. Perlu kita ketahui bahwa pengeluaran keuangan dibagi menjadi 3: 1. Pengeluaran untuk kewajiban 2. Pengeluaran untuk kebutuhan 3. Pengeluaran untuk keinginan Pengeluaran untuk Kewajiban merupakan pengeluaran yang wajib kita sediakan karena besarannya sudah ditetapkan oleh pihak lain karena adanya sebuah perjanjian. Contohnya yaitu pengeluaran untuk membayar utang, pengeluaran untuk membayar premi asuransi, pengeluaran untuk tabungan berjangka, pengeluaran untuk penempatan pada reksadana berjangka, pengeluaran untuk membayar sekolah, serta pengeluaran lain yang memang kita harus siap sedia menyiapkan dananya secara rutin.
Pengeluaran untuk Kebutuhan. Nah, pengeluaran ini adalah pengeluaran untuk memperoleh sesuatu yang memang kita butuhkan, suka tidak suka kita harus dapatkan karena memang kita butuh sesuatu ini, serta jika kita tidak penuhi maka akan membuat kehidupan kita menjadi pincang atau bahkan kita tidak bisa melangsungkan kehidupan dengan baik. Misalnya untuk membeli kebutuhan sembako, membayar listrik, air, serta apapun itu yang sifatnya memang kebutuhan. Sementara Keinginan adalah segala sesuatu yang kita beli hanya karena kita ingin, entah kita butuh atau tidak.
Apakah Moms masih sulit untuk membedakan apakah Kebutuhan dan Keinginan? Misal tadi salah satu contoh Kebutuhan adalah sembako. Berarti disini kita butuh makan untuk kebutuhan pangan. Nah, untuk pos pengeluaran ini akan tetap aman alias tidak akan membengkak jika kita berkomitmen memenuhinya dengan cara belanja bahan-bahan makanan di pasar tradisional, lalu memasaknya sendiri dan membawa bekal makanan dari rumah untuk makan siang di kantor.
Sementara Keinginan yaitu jika kita ingin memenuhi kebutuhan pangan tersebut dengan order di rumah makan dan belanja bahan-bahan makanan di super market. Inilah keinginan, yang membuat kita mudah sekali terlena sehingga membuat bocor anggaran keuangan rumah tangga.
Moms, jumlah Kewajiban dan Kebutuhan biasanya relatif tetap. Jikapun berubah, angkanya tidak akan berubah secara signifikan. Sebagai misal bulan ini kita butuh beras sebesar 15kg, bulan depan mungkin naik menjadi 17kg-18kg karena mungkin anak-anak sedang banyak berada di rumah karena libur panjang. Sementara Keinginan selalu bervariasi karena Keinginan tidak memiliki batasan.
Moms, dalam keadaan seperti sekarang ini dimana sosial media memungkinkan mempengaruhi kehidupan kita, maka kita harus lebih selektif kira-kira paparan apa yang pas dan aman untuk kondisi keuangan keluarga. Kita jangan mudah terpengaruh dengan barang-barang konsumtif yang bersliweran atau bahkan dibahas hangat dalam sebuah group pertemanan. Kita harus seleksi dulu, apakah barang itu merupakan barang yang kita butuhkan ataukah hanya akan memenuhi keinginan kita saja karena sebenarnya kita belum bisa menggunakannya secara maksimal.
Mari kita merenung dan kita data ulang, kira-kira selama ini kita lebih banyak belanja untuk memiliki harta produktif ataukah untuk membeli harta konsumtif. Sengaja menyisihkan penghasilan perbulan untuk memiliki harta produktif akan sangat memberikan manfaat di masa depan daripada mengeluarkan penghasilan untuk membeli harta konsumtif.
Macam harta produktif: tabungan, deposito, unit link, reksadana, obligasi, property. Macam harta konsumtif: perabot, elektronik, kendaraan, kebutuhan fashion. Kita butuh komitmen demi mencapai tujuan-tujuan keuangan keluarga. Jangan menunggu sampai kita memiliki penghasilan yang besar dulu baru kemudian menyisihkan untuk menabung. Kita harus selalu ingat bahwa sesuatu yang besar dapat dimulai dari sesuatu yang kecil. Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit. Ingat bahwa Rp.8.300,- perhari selama 12 bulan bisa menjadi Rp.3.000.000-.
Mari duduk bersama dengan keluarga, kita daftar tujuan jangka pendek dan jangka panjang keluarga dan selanjutnya adalah: Take Action and Make It happen.
* ilustrasi gambar dari google |
Komentar
Posting Komentar