Senang rasanya kita memiliki buah hati yang cerdas dan sehat. Hati kita akan semakin bahagia saat kita tahu mereka akan mulai bersekolah.
Pastinya kita sebagai orang tua, kita akan setuju bahwa pendidikan mempunyai peran yang sangat besar untuk masa depan anak-anak kelak. Sehingga kita pasti memiliki cita-cita untuk memberikan mereka pendidikan yang terbaik agar nantinya mereka mampu menjadi pribadi yang mandiri dalam segala aspek, termasuk secara aspek financial.
Pernahkah terbayang berapa dana yang akan kita butuhkan untuk pendidikan anak?
Karena seperti kita tahu biaya pendidikan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.
Nah, berarti kapan idealnya kita mempersiapkan dana pendidikan anak?
Jawabannya adalah: Sedini mungkin.
Misalnya ketika anak baru lahir, masih dalam kandungan, atau bahkan sejak pasangan muda baru menikah dan merencanakan untuk memiliki anak.
Semakin dini kita persiapkan, maka hasil yang akan kita peroleh akan lebih optimal. Terlebih kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Harapannya kita selalu sehat dan terus dapat memenuhi kebutuhan anak. Jadi, tidak ada salahnya jika kita gunakan peluang di saat kita sehat dan masih produktif untuk sesegera mungkin menyisihkan penghasilan guna persiapan pendidikan anak.
Berikut adalah biaya-biaya yang biasanya dikeluarkan untuk tingkat TK sampai dengan SMA:
Uang pangkal: yang akan kita bayarkan satu kali yaitu pada saat mendaftarkan anak ke satu tahap pendidikan.
SPP yang mesti kita bayarkan setiap bulan
Biaya pendukung kegiatan, seperti untuk membeli seragam, uang saku, buku-buku tambahan
Biaya-biaya lain untuk mengikutkan anak kursus ataupun les.
Lalu...berapa lagi yang kita butuhkan untuk mempersiapkan pendidikan anak di tingkat universitas?
Saya kadang suka iseng untuk mengintip besaran biaya kuliah di kampus-kampus negeri maupun swasta yang ternama di Indonesia. Benar-benar saya auto terbelalak. Angan saya langsung melayang menuju 5 tahun ke depan secara anak saya yang nomor satu saat ini sudah duduk di kelas 7.
Jika kampus negeri (PTN) yang akan kita tuju, memang lebih simple perkiraan biayanya dibanding kampus swasta (PTS). PTN menerapkan uang kuliah tunggal (UKT) atau biaya operasional pendidikan (BOP). Tergantung PTNnya, apakah UKT atau BOP yang mereka terapkan.
Setiap PTN memiliki besaran UKT atau BOP yang berbeda, tergantung kebijakan masing-masing kampus. Perbedaan mendasar antara UKT dan BOP adalah sistem penghitungan besaran biayanya.
Kalau di PTN, setelah membayar UKT atau BOP kita sudah tidak perlu lagi membayar biaya pendidikan lainnya karena semua biaya termasuk biaya laboratorium, biaya praktikum, atau apapun itu, sudah termasuk ke dalam perhitungan UKT atau BOP.
Jika kita berencana memasukkan anak kita ke PTN melalui jalur mandiri, biasanya akan ada biaya awal masuk semacam uang pangkal. Hal ini serupa di PTS. Umumnya PTN juga membebankan UKT pada golongan tinggi untuk jalur mandiri.
Di PTS sendiri, tidak ada kebijakan UKT atau BOP. Tiap PTS mengharuskan calon mahasiswa untuk membayar uang pangkal atau uang gedung. Biaya ini hanya dikeluarkan sekali aja selama perkuliahan, yaitu di awal kamu masuk.
Biaya ini hampir selalu muncul di rincian biaya PTS mengingat di PTS, pembiayaan dalam perkuliahan dan gedung ditanggung secara mandiri oleh institusi universitas, tanpa ada subsidi dari pemerintah seperti yang berlaku di PTN. Nominalnya beragam, tapi secara rata-rata besarnya mencapai puluhan juta rupiah. Sehingga biaya-biaya yang perlu kita persiapkan jika ingin memasukkan anak ke PTS jelas lebih banyak dibandingkan PTN.
Maka dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, alangkah baiknya kita harus sigap untuk memilih jenis investasi untuk mempersiapkan anggaran pendidikan sedini mungkin.
Kita dapat memilih memasukkannya ke dalam tabungan pendidikan, asuransi pendidikan, deposito ataupun investasi lain seperti emas, properti, maupun reksadana.
Mari kita berjuang demi masa depan anak-anak yang lebih baik!
Terkadang kita suka seolah menggampangkan kalau sama teman. Sewaktu istirahat lalu pergi makan siang bareng, teman kita yang nalangi dulu billingnya, kemudian kita suka lupa menggantinya. Saat teman bepergian, dengan entengnya kita minta oleh-oleh. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang endingnya terkait uang yang juga kita anggap bukan masalah besar karena menurut kita teman adalah malaikat yang anytime selalu ada dan siap membantu kita. Please segera ubah mindset ini karena teman kita pastinya juga punya kebutuhan. Mereka juga bersusah payah bekerja dan penghasilannya sudah mereka anggarkan untuk kelangsungan hidupnya. Jangan sampai kita membebani mereka karena hal ini perlahan akan menjadi penyakit dan membuat hubungan pertemanan kita menjadi renggang. Jangan pula mudah tersulut iri dengki atau merasa gerah jika teman kita memperoleh pencapaian tertentu, semisal dapat membeli mobil baru, mudah sekali shopping barang-barang branded ataupun bisa travelling keliling dunia. Jangan...
Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim Aha..."Saya Selektif" the Series hadir kembali... Jangan bosan ya 😉 Khan kita sebagai Super Mom memang harus jago mengkreasikan pendapatan keluarga untuk masa depan yang lebih lebih baik. Masa depan untuk anak-anak dan juga masa depan kita sendiri (suami dan istri saat usia produktif telah usai). Seperti yang sudah saya sampaikan di tema sebelumnya, ada beberapa produk investasi yang bisa kita ambil. Semua ada plus dan minus nya. But... jangan kuatir, yang namanya investasi lebih banyak plusnya. Perbanyak literasi, cari informasi dari teman-teman yang bisa memberikan testimoni, serta siap tahan diri. Lho kok Tahan Diri? Maksudnya apa? Yup, harus selalu diingat pada saat kita berniat untuk menaruh dana kita pada pos Investasi, jangan sampai belum 1 tahun kita sudah gatel pengen nge-break, lalu ada isu goncangan ekonomi, langsung ketakutan dan ikutan rush bahkan menjual semua instrumen investasinya. Pesan saya.... co...
Investasi Untuk Generasi Milenial Dewasa ini Reksadana disebut sebagai salah satu bentuk investasi yang cukup aman dan menguntungkan, sehingga tidak dapat dielakkan jika portofolio investasi ini, kini telah menjadi primadona baru bagi para generasi milenial. Mengapa? Karena hanya dengan modal mulai dari Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah), kita sudah bisa menjadi investor reksadana. Nominal sebesar ini sudah banyak ditawarkan oleh fintech, dan e-commerce karena mereka ingin menjaring lebih banyak investor ritel domestik. Dan tujuan yang paling utama adalah supaya generasi muda Indonesia melek investasi, dimulai dengan reksadana. Reksadana merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal, untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi (pengertian reksadana menurut Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, Pasal 1 Ayat 27). Jadi modal yang kita investasikan ke reksadana, akan dikelola oleh manajer investasi y...
Komentar
Posting Komentar