Kenali Profil Risiko Diri Sebelum Berinvestasi



Sebenarnya topik ini pernah saya singgung ditulisan saya sebelumnya. Tapi kali ini akan saya coba tulis kembali secara lebih spesifik supaya lebih mudah untuk dipahami.

Salah satu langkah untuk memulai berinvestasi yaitu kita diharapkan untuk mengenali dulu jenis profil risiko investasi diri kita. Seperti halnya saat kita berkunjung ke Dunia Fantasi (Dufan). Kita akan dihadapkan dengan bermacam-macam wahana. Nah, kira-kira wahana apakah yang nantinya akan kita pilih?
Apakah komedi putar yang santai dan menghibur?
Apakah kita akan memilih arum jeram yang seru, yang mana kita akan mendapat sensasi basah karena terciprat air?
Ataukah kita akan memilih roller coaster yang pastinya sangat menantang adrenalin?

Seperti halnya dalam memilih wahana permainan, setiap individu akan memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi risiko investasi, mengingat toleransi seseorang terhadap risiko sangat bersifat pribadi dan tentunya akan memengaruhi keputusan investasinya.

Terdapat 3 profil risiko yang lazim dikenal:



1. Konservatif
Profil ini adalah untuk orang yang cenderung menghindari risiko tinggi. Orang konservatif lebih menyukai instrumen yang stabil, tidak terlalu berfluktuasi tajam dan tentunya aman.
Instrumen investasi yang dipilih adalah instrumen yang dapat memberikan pendapatan tetap, terjamin, dan returnnya stabil.
Contohnya seperti deposito, surat utang negara, properti, emas.


2. Moderat
Profil ini adalah untuk orang yang masih dapat menoleransi sebagian risiko penurunan nilai investasi. Orang moderat masih bisa menerima penurunan nilai investasi hingga tingkat tertentu. Menurut orang-orang dengan tipe ini, penurunan nilai investasi hanyalah sementara karena suatu saat akan naik kembali.
Instrumen investasi untuk profil ini seperti Obligasi swasta, reksadana campuran.


3. Agresif
Profil risiko ini adalah untuk orang-orang yang mengejar peningkatan nilai investasi dalam jangka panjang.
Tipe agresif dapat menoleransi penurunan nilai investasi dalam jumlah besar. Jika ada penurunan nilai investasi sebagai misal saham, justru dia menganggap sebagai kesempatan emas untuk menambah pembelian saham karena pada saat itu harganya relatif sedang murah.
Contoh instrumen investasinya seperti saham, reksadana saham, bisnis.

Apapun instrumen investasinya, pasti memiliki risiko, mengingat dalam kehidupan sesuatu diciptakan berpasangan, yaitu ada return (imbal hasil) dan tentunya ada risiko.
Namun risiko tersebut bisa kita minimalkan yaitu dengan cara jangan menaruh telur dalam satu wadah yang sama supaya jika dalam satu wadah itu hancur, telur yang ada di wadah yang lain akan tetap utuh.
" Do not put your eggs in one basket " merupakan wejangan fenomenal dalam berinvestasi.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya literasi investasi, dan bertambahnya pengalaman yang dilalui seseorang dalam berinvestasi, akan memungkinkan adanya perubahan profil risiko investasi seseorang. Sebagai misal saat seseorang itu belajar berinvestasi bisa jadi semula orang ini memiliki profil risiko konservatif. Dalam perkembangannya, profil risiko orang ini bisa saja berubah menjadi tipe moderat. Atau bisa jadi sebaliknya, yaitu yang dulunya seseorang memiliki tipe agresif namun karena adanya pengalaman yang tidak mengenakkan bahkan cukup menghancurkan keuangannya karena hasil investasi yang tidak sesuai harapan, maka tipe risikonya berubah menjadi moderat.

Demikian 3 tipe profil risiko dalam berinvestasi.Untuk menyiapkan financial freedom di masa depan, investasi merupakan solusi. Tapi...jangan lupa kita harus terus waspada jangan sampai terjerumus dalam investasi bodong. So, always be wise.

** ilustrasi gambar google
** video dengan topik serupa Kenali Profil Risiko Investasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Manners dalam Pertemanan

Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim

Investasi Untuk Generasi Milenial