Financial Freedom Bukan Hanya Impian
Pastinya setiap orang mengidamkan kebebasan financial atau financial freedom. Bahkan mungkin kaum milenial saat ini sudah menjadikan financial freedom ini sebagai wishlist mereka yang saat ini berada di usia produktif.
Yup benar, usia produktif merupakan waktu yang tepat untuk mulai merencanakan dan perlahan mengeksekusi tujuan-tujuan keuangan untuk masa depan.Demi apa? Pastinya demi nantinya financial freedom bukan hanya sekedar impian belaka.
Secara pengertian, financial freedom merupakan keadaan dimana seseorang memiliki kendali penuh atas uang yang ia miliki dan tidak membiarkan uang tersebut menghalangi keputusan-keputusan dalam hidupnya. Terkadang financial freedom dihubungkan dengan pensiun dini atau bekerja hanya jika butuh karena seseorang sudah memiliki passive income untuk memenuhi kebutuhannya, hidup tanpa cicilan, dan hidup tidak lagi khawatir tentang uang. Intinya kita hidup nyaman dan financial sudah dalam posisi aman.
Financial freedom berbeda antara satu orang dengan orang yang lain karena hal ini terkait dengan financial goal yang berbeda dari masing-masing orang tersebut.
Sebagai misal, Toni ingin memiliki rumah pada usia 28 tahun seharga Rp.450.000.000,- di Perumahan Griya Sejahtera dengan pembiayaan KPR sebesar Rp.360.000.000,- dimana 20% harga rumah tersebut dibiayai dengan tabungan yang ada, dan jangka waktu KPR yang diambil 10 tahun.
Nah, tampak dari contoh financial goal itu bahwa Toni ingin memiliki financial freedom yaitu terbebas dari cicilan KPR pada usia 38 tahun. Sehingga di sini juga dapat disampaikan bahwa untuk mewujudkan financial freedom bukan berarti kita tidak boleh memiliki hutang. Berhutang bukanlah sesuatu yang dilarang, namun untuk porsinya kita perlu memberikan batasan, yaitu maksimal cicilannya 30% dari penghasilan rutin bulanan, yang tentu saja harus tetap diingat, bahwa sebaiknya berhutang untuk membeli sesuatu yang tidak mengalami penurunan nilai.
Mungkin untuk orang yang lainnya lagi, mereka merasa akan mencapai financial freedom setelah berhasil membiayai anak-anaknya kuliah di perguruan tinggi terbaik atau mungkin bisa jalan-jalan keliling dunia. Jadi, itulah preferensi financial freedom yang tidak bisa digeneralisir antara masing-masing orang karena semua punya versinya masing-masing, semua punya goal yang berbeda-beda. Hanya yang menyamakan adalah perjuangannya, semua harus melalui perencanaan yang matang agar semua bisa direalisasikan.
1. Pahami posisi dan kondisi keuangan
Masing-masing orang memiliki profil keuangan yang berbeda-beda demikian juga dengan risiko yang berbeda. Sebelum menyusun rencana untuk mewujudkan financial freedom, kita harus mengetahui posisi titik awal kodisi keuangan kita. Pahami secara detail berapa aset yang kita miliki, pun dengan utang yang menjadi tanggungan saat ini.
Sehingga di sini diperlukan adanya Balance Sheet atau Neraca supaya kita tahu kondisi Aset (aset likuid, aset investasi, dan aset personal) dan kondisi hutang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang). Dengan demikian kita juga akan mengetahui Nilai kekayaan bersih yang kita miliki (Total Aset - Total Hutang).
Selalu berkomitmen untuk melunasi hutang, karena tentunya hal ini sangat berkaitan erat dengan reputasi dan keberhasilan kita untuk mencapai financial goal berikutnya demi mencapai tujuan puncak, yaitu financial freedom.
2. Atur Pengeluaran
Kita harus memahami berapa penghasilan bulanan dan penghasilan tambahan (jika ada). Lacak setiap pengeluaran jangan sampai nantinya besar pasak daripada tiang.
Sehingga di sini diperlukan adanya pencatatan berupa cash flow atau arus kas, yaitu untuk mencatat berapa penghasilan bulanan yang kita terima dan berapa pengeluaran yang kita lakukan. Apakah sudah sesuai anggaran ataukah over budget?
Dengan memiliki pencatatan cash flow, maka akan mempermudah kita untuk melakukan pelacakan sehingga nantinya kita akan tahu apakah cash flow dalam kondisi surplus ataukah defisit. Hal ini dapat kita jadikan bahan untuk melakukan review dan evaluasi.
3. Miliki Asuransi
Dalam perencanaan keuangan pribadi, asuransi berfungsi untuk memproteksi penghasilan.
Sebagai misal, jika kita tidak memiliki asuransi kesehatan, maka jika sewaktu-waktu ada masalah kesehatan terhadap diri kita atau bahkan harus dilakukan perawatan di rumah sakit, maka cost kesehatan ini dimungkinkan membocorkan penghasilan kita. Parahnya lagi jika penghasilan yang kita miliki tidak cukup untuk mencover biaya rumah sakit, maka dapat dimungkinkan kita akan menarik tabungan, menjual aset atau mungkin berhutang.
Nah, dengan memiliki asuransi setidaknya kita sudah melakukan transfer risiko ke perusahaan asuransi untuk mengamankan keuangan kita sehingga kita masih tetap fokus merealisasikan mimpi, yaitu financial freedom.
4. Miliki Dana Darurat
Milikilah dana darurat karena sebenarnya dana darurat merupakan lapis kedua perlindungan keuangan keluarga. Pertimbangannya yaitu jika tiba-tiba ada kejadian yang menyebabkan kita kehilangan sumber pemasukan bulanan, sehingga keuangan kita akan tetap bisa tertopang untuk beberapa waktu hingga kita mendapati sumber penghasilan berhasil aktif kembali. Untuk yang masih single kebutuhan dana darurat minimal sebesar 6 kali pengeluaran bulanan. Untuk yang sudah berumah tangga, kebutuhan dana darurat minimal sebesar 9-12 kali pengeluaran bulanan.
5. Berinvestasilah
Uang yang kita miliki tidak akan pernah sama nilainya pada lima tahun ke depan. Kita harus ingat adanya time value of money yang dipengaruhi oleh inflasi. Mari kita menyegerakan berinvestasi yang tentunya pilih instrumen investasi yang cocok dengan profil risiko diri kita.
6. Ciptakan pendapatan pasif
Misalnya dengan berbisnis, jika sebelumnya penghasilan utama yang kita peroleh berasal dari pekerjaan sebagai karyawan.
Jika memang belum berani membuka bisnis, pendapatan pasif juga bisa diperoleh dari penempatan dana kita ke deposito, reksadana, obligasi, saham, ataupun keuntungan dari investasi lainnya.
** ilustrasi gambar dari google
** versi video Financial Freedom Bukan Hanya Impian


Komentar
Posting Komentar