Mengatasi Impulsive Buying


Sebagian besar dari kita belum mengetahui tanda dan bagaimana mengatasi perilaku impulsive. Salah satu perilaku yang kerap dilakukan banyak orang, yaitu belanja berlebihan.
Perilaku ini jika jarang terjadi, maka tidak perlu dikhawatirkan. Namun jika sebaliknya maka akan menjadi penyakit keuangan keluarga.

Perilaku impulsive merupakan sikap seseorang ketika melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan akibat dari apa yang dilakukan.
Sehingga bisa dibayangkan jika perilaku ini kerap kali dilakukan, bisa-bisa keuangan tekor bahkan menumpuk hutang karena biasanya kartu kredit-lah yang akan dijadikan tumbalnya.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Berikut tips sederhana yang barangkali bisa membantu:
  1. Selalu buat cashflow (arus kas): Jangan pernah lelah untuk mencatat penghasilan dan pengeluaran supaya kita mudah untuk melakukan review, apakah keuangan kita setiap bulannya dalam kondisi surplus ataukah defisit.
  2. Buat anggaran belanja sesuai skala prioritas: Bukan berarti kita tidak boleh menikmati atas penghasilan yang kita peroleh. Namun kita harus ingat bahwa masih banyak hal-hal yang harus kita penuhi dan persiapkan untuk masa depan dengan segala ketidakpastiannya. Belanja sesuai dengan kebutuhan. Belanja jika sudah dianggarkan!
  3. Batasi akses E-commerce: Melalui Ecommerce kita akan melihat tampilan-tampilan yang menarik, rekomendasi produk yang terus menerus muncul, tawaran diskon yang menggiurkan, dan tentunya semua dikemas dalam kemudahan pembayaran. So...kita harus berkomitmen untuk membatasi aksesnya dan kuat hati jika ingin mengintip salah satu laman Ecommerce, fokus untuk membeli barang yang memang kita butuhkan.
  4. Selalu ingat Tujuan Keuangan kita: Dengan kita selalu ingat dengan Tujuan Keuangan yang kita tetapkan, maka kita akan selalu ingat bahwa harus menyisihkan penghasilan untuk mencapai tujuan keuangan tersebut. Dengan demikian kita akan benar-benar membatasi pengeluaran yang dirasa kurang bermanfaat atau hanya sebatas memenuhi keinginan.
  5. Ingat kembali penyesalan saat terakhir kali melakukan Impulsive Buying: Pengalaman adalah guru terbaik kita. Penyesalan yang kita lakukan jangan hanya sebatas pura-pura melakukan penyesalan. Ingat kembali dampak yang akan kita hadapi. Selalu ingat bahwa mengurai masalah keuangan tidak bisa dilakukan sekejap dan kerap kali menjadi sumber "drama" dalam rumah tangga.


Impulsive buying dapat terjadi karena adanya dorongan eksternal seperti diskon, promosi menarik, serta godaan setelah melihat teman atau keluarga yang memiliki barang tertentu.

Nah, sebelum membeli sesuatu alangkah baiknya kita pertimbangkan lagi, apakah benar atas dasar Need ataukah Want

** ilustrasi gambar dari google

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Manners dalam Pertemanan

Saya Selektif: Investasi Dengan Dana Minim

Investasi Untuk Generasi Milenial