Financial Check Up
Akhirnya saya memiliki profesi yang sama dengan pak suami, yaitu sama-sama melakukan "Check up", hanya yang membedakan kalau pak suami merekomendasikan Medical check up, sementara saya Financial check up.
Nah, keuanganpun perlu dilakukan check up supaya yang sehat bukan hanya badan kita saja.
Mengapa financial check up penting dilakukan?
- Mengidentifikasikan pos pengeluaran
Seringkali orang mengeluh bahwa uang mereka habis untuk membayar ini dan itu, alias gajinya numpang lewat. Begitu gajian, uang langsung ludes untuk membayar cicilan, biaya hidup sehari-hari, dan sebagainya.
Ternyata, sebagian besar orang tidak disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran mereka. Dengan melakukan financial check up, kita akan mengetahui apa saja pos pengeluaran sehingga kita tidak perlu lagi meraba-raba atau bertanya-tanya, ke mana sajakah uang kita selama ini.
- Mengontrol pengeluaran dengan cermat dan terarah
Pengeluaran yang tidak dicatat dan tak terkontrol hanya akan membuat kita menghabiskan uang dengan mudah tanpa skala prioritas. Apa saja kita anggap perlu untuk dibeli. Padahal kita harus punya Dana Darurat untuk emergency dan juga pos untuk investasi. Dengan melakukan financial check up, kita akan bisa mengontrol pengeluaran sehingga pengalokasiannya lebih tepat dan terarah.
- Merencanakan keuangan masa depan
Kita perlu menyadari bahwa financial check up merupakan bagian dari perencanaan keuangan masa depan. Di sisi lain, kita perlu mengetahui apa yang menjadi impian finansial kita selama ini sehingga kita bisa tetap fokus pada rencana-rencana itu, misalnya menikah, membeli rumah, melunasi utang, liburan bersama keluarga, melakukan perjalanan ibadah (umroh, naik haji), dan lain-lain. Selain membantu kita menggunakan uang dengan lebih cermat, financial check up dapat membantu menuntaskan masalah keuangan demi mencapai impian finansial kita.
Cara melakukan financial check up yaitu:
Review posisi harta, utang, kekayaan bersih (Harta dikurangi Utang). Maksimal Harta yg dibiayai dengan Utang adalah 50% saja.
Review arus kas (cash flow):
Pos berderma 2,5%-10%, pos cicilan maksimal 30%, pos tabungan & investasi minimal 10% dan pos kebutuhan hidup 40%-60%



Komentar
Posting Komentar