Sandwich Generation
Sesi curhatan mereka dalam kolom chat itu membuat saya bangga bin mengernyitkan dahi. Betapa mereka ini merupakan anak muda yang extraordinary, yang tentunya dipilih Tuhan untuk memiliki "kekuatan" lebih dibandingkan anak muda lainnya, yang biasanya mereka masih happy-happy dengan pencapaian penghasilan di masa single-nya.
Akhirnya saya juga menduga, bahwa mereka antusias mengikuti webinar ini karena mereka berharap suatu ketika tidak ingin menjadi "sandwich generation" untuk anak-anaknya nantinya.
Yup, they want to stop this kind of tradition in their family. They want to say: enough. Just enough on us.
Sandwich seakan merefleksikan kondisi tersebut, di mana tekanan ada dari atas maupun bawah, terjepit seperti sandwich dengan irisan tomat, keju atau daging di tengahnya. Dan cukup dimungkinkan generasi ini berpeluang mengalami banyak tekanan sehingga rawan stress.
So, apakah kita akan menjadi peng-iur munculnya Sandwich generation di masa tua kita nantinya?
Please say No. Very-very Big No.
Perlu diketahui bahwa situasi tersebut terjadi sebagai akibat dari generasi tua (orang tua) yang tidak mempersiapkan masa tuanya dengan baik. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan manajemen masa pensiun dan rapuhnya pengelolaan keuangan untuk hari tua, sehingga persiapan dana untuk masa tua tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang akhirnya kekurangan tersebut dilimpahkan kepada anak.
Yang sebaiknya selalu kita jadikan reminder, yaitu: dimasa tua, disaat kita sudah pensiun, disaat kita sudah tidak produktif, kita tetap harus melanjutkan kehidupan hingga Tuhan meminta kita untuk kembali. Pastinya tetap dibutuhkan dana yang bisa mengcover kehidupan tersebut tanpa mengesampingkan dana kesehatan mengingat dimasa tua rentan akan masalah kesehatan.
Harapannya kita pensiun dalam kondisi selalu sehat sehingga tidak memerlukan budget tambahan untuk dana kesehatan.
Namun the future is full of uncertainty, tidak ada salahnya kita persiapkan dana apa saja yang kita butuhkan di saat menua nanti.
Retirement planning atau perencanaan pensiun tetap harus diperhatikan meskipun kita nantinya akan mendapatkan uang pensiun dari kantor, karena biasanya dana yang kita dapatkan tersebut rata-rata hanya mampu membiayai 20-25% kebutuhan hidup kita. Namun, jika sudah berkomitmen untuk mampu bertahan hidup dengan dana pensiun dari kantor tersebut, berarti sudah siap memangkas gaya hidup semasa produktif dulu dan menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Jangan pernah tetap mempertahankan gaya hidup semasa produktif karena pastinya anak-anaklah yang akan menjadi penanggung sisanya.
Berbeda masalahnya jika kita sudah mempersiapkan dana pensiun sedini mungkin karena ingin tetap menjadi orang tua yang mandiri finansial meski sudah pensiun. Kita akan menyisihkan penghasilan semasa produktif kita untuk pos ini.
Tidak ada salahnya jika kita terus bertanya pada diri sendiri "Will i have enough money to last through out my retirement?"
Supaya kita selalu semangat untuk mempersiapkan masa ini dengan optimal.
Untuk para sandwich generation yang saat ini sedang berjuang, jangan pernah bersedih karena kalian merupakan pilihan Tuhan. Jangan pernah beranggapan bahwa kedua orang tua kita adalah beban dan menyusahkan hidup kita. Atau sebaliknya bahwa seberat apapun perjuangan kita dalam menghidupi keluarga kita termasuk kedua orang tua adalah sebuah keberkahan dan kemuliaan tersendiri di sisi Tuhan. Pastinya di dalamnya terdapat ampunan dan pahala yang berlimpah untuk kita. Sehingga Tuhan akan memudahkan jalan bagi kita yang yakin akan janji-Nya serta memilih berbahagia menjadi Sandwich Generation.
*ilustrasi gambar dari google


Komentar
Posting Komentar