YOLO: You Only Live Once
YOLO juga mengingatkan kita agar selalu punya tujuan hidup.
Setelah tahu apa tujuan hidup kita, persiapkan rencana demi memenuhi tujuan hidup tersebut. Mulailah dari hal-hal yang kecil.
Jika belum menemukan apa tujuan dalam hidup ini, luangkan beberapa waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, lakukan kontemplasi.
Renungkan arti hidup ini dan ingatlah orang-orang spesial dalam hidup kita 💛
--
YOLO! You Only Live Once
Yuk nikmati hidup dan tetap bijak dalam menggunakan uang:
YOLO, istilah ini sudah sangat familiar kita dengar dan lihat.
Wait, jangan sampai kita terjebak dengan moto tersebut. Mentang-mentang kita hidup hanya satu kali, lantas kita bertindak semaunya tanpa batas, tanpa planning dengan dalih " Hidup cuma 1x, Bro. Nikmati dong, jangan kayak orang susah "
Apalagi hal ini terkait dengan "menghabiskan" uang, sehingga uang benar-benar habis hanya untuk pengeluaran berjangka pendek alias pengeluaran konsumtif semata.
Dan akhirnya kita akan menyesal disaat kita lakukan finansial check up, ternyata rasio utang melebihi batas ideal dan parahnya lagi jika ternyata utang-utang tersebut didominasi oleh kartu kredit, KTA, dan pinjol lainnya. Bahkan saat mengelist aset, ternyata kita belum punya apa-apa.
Nah, di sinilah kita harus mulai memberanikan diri untuk mewarnai YOLO ini dengan hal-hal yang berfaedah agar bisa menikmati hidup dengan indah tanpa meninggalkan kebiasaan kita untuk menggunakan uang secara bijak.
Uang memang bukan segalanya. Kita juga tidak diharapkan untuk menjadi hamba uang. Namun, tidak dapat dipungkiri untuk dapat bertahan hidup, uang tetaplah menjadi sesuatu yang penting. Untuk dapat memenuhi 3 kebutuhan primer (sandang, pangan, papan), pastilah kita membutuhkan uang. Sementara di sisi lain untuk mendapatkan uang, dibutuhkan effort yang tidak mudah: berangkat pagi pulang malam, mengorbankan quality time dengan keluarga, dan banyak pengorbanan lainnya.
Lalu? Apakah pengorbanan-pengorbanan itu akan kita sia-siakan saja?
Oleh karena itu, pola hidup hemat perlulah dibiasakan. Hemat bukan pelit lho ya.
Hemat adalah mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan, bukan berlebihan. Sementara pelit adalah dengan sengaja tidak mau mengeluarkan uang untuk keperluan yang kita butuhkan.
Untuk dapat berhemat, kita harus bisa membedakan mana needs dan mana wants.
Needs adalah hasrat yang realistis, karena memang kita butuh, jumlahnya terbatas, jika tidak dipenuhi maka akan mengganggu kelangsungan hidup kita.
Sementara wants adalah hasrat yang ingin dipenuhi untuk kesenangan sesaat dan jumlahnya tidak terbatas. Biasanya setelah terpenuhi, sudah gitu saja rasanya. Iya happy, tapi hanya saat itu saja. Setelah itu biasa-biasa saja.
Tergiur dengan barang-barang yang bukan prioritas, memang menjadi godaan terbesar, inilah titik kelemahan kita. Namun, kita harus belajar menahan hawa nafsu supaya tidak membawa kita kepada gaya hidup boros.
So, berarti apakah kita tidak boleh memanjakan diri sesekali dengan uang yang kita miliki?
Tentu boleh, karena melalui pengelolaan keuangan yang baik maka kita akan dapat mengalokasikan untuk pos happy-happy tapi tetap taat aturan tanpa berlebihan mengingat masih ada pos-pos yang lainnya yang wajib kita isi demi menyongsong kebahagiaan di masa depan.
Selalu ingat pos happy-happy untuk memenuhi kebutuhan life style beri batasan maksimal 10% dari penghasilan bulanan.
Sudah menjadi rahasia umum mengenai kunci keberhasilan orang-orang sukses adalah Delaying Gratification, yaitu menunda kesenangan jangka pendek demi menyongsong kebahagiaan jangka panjang.
Yuk kita contoh orang-orang sukses ini. Terus semangat mempersiapkan masa depan dengan kebebasan finansial yang tentunya hal ini akan dapat memutus rantai sandwich generation.
*ilustrasi gambar dari google


Komentar
Posting Komentar