Impian Memiliki Rumah Pertama
Nah, sebenarnya sulit tidak ya mewujudkan impian ini?
Pastinya tidak akan ada perjuangan yang berbuah manis tanpa adanya pengorbanan, kecuali memang kita terlahir sebagai anak sultan yang mana semua tersedia tanpa kucuran keringat dan air mata.
Tapi...kita jangan patah semangat, enjoy the process karena suatu ketika financial journey ini akan menjadi memory tersendiri untuk keluarga kita dan tentunya bisa kita share ke anak-anak supaya mereka juga belajar berempati kepada orang tuanya.
Berikut langkah untuk mewujudkan impian memiliki rumah pertama ala saya:
1. Belilah rumah sesuai kemampuan
Memang benar jika kita bermimpi alangkah mimpi itu kita sematkan setinggi langit.
But wait...untuk case ini sepertinya tidak bisa kita terapkan. Mengapa?
Karena terkait menetapkan impian keuangan (financial goal), kita harus be SMART (Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Timely).
Jangan sampai apa yang kita impikan hanya sebatas halusinasi karena sulit untuk diwujudkan.
Secara sederhana, kita memiliki kemampuan untuk membeli rumah seharga maksimal 5x penghasilan setahun. Jadi, semisal penghasilan setahun adalah Rp.150 juta, maka harga rumah yang mampu dibeli adalah senilai Rp. 750 juta.
Sebaiknya jangan pernah mengabaikan point ini untuk memilih rumah pertama, karena kita harus realistis bahwa saat membeli rumah, kita harus pastikan memang rumah ini akan mempresentasikan diri kita yang sebenarnya, baik secara finansial dan juga selera kita.
2. Uang Muka (DP)
Jika belum memiliki dana secara gelondongan alias membeli secara cash rumah pertama, kita bisa upayakan beberapa alternatif pembiayaan baik dari perbankan (KPR) maupun cash bertahap kepada Developer.
Jika kita memilih menggandeng perbankan, tentunya kita harus mempersiapkan uang muka antara 20%-30% dari harga rumah sebagai syaratnya. Untuk kemudian sisanya akan dibiayai oleh perbankan dan kita tinggal mengangsurnya hingga jangka waktu KPR berakhir.
Mengenai cash bertahap kepada Developer, terkadang ada yang menawarkan tanpa uang muka sehingga kita tinggal mengangsur sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Yang perlu digarisbawahi untuk sistem cash bertahap kepada Developer yaitu, pastilah nominal angsurannya akan berkali-kali lipat besarnya dibanding dengan angsuran KPR, karena jangka waktunya akan lebih pendek.
Nah, bagaimana cara mengumpulkan dana untuk uang muka?
Hal ini menjadi salah satu alasan utama banyak orang menjadi enggan memiliki rumah karena merasa kesulitan mengumpulkan dananya.
Selalu saya ingatkan, bahwa semua butuh perjuangan. Jika kita sudah menyematkan tujuan keuangan, semisal:
Punya Rumah di komplek Permadani Estate seharga Rp.750 juta pada tahun 2025, DP 20% (sisanya KPR). Maka kita harus fokus dan berkomitmen untuk mewujudkan impian ini.
DP 20% x 750 juta = 150 juta
DP ini harus terkumpul 4 tahun lagi (2021-2025). Berarti kita memperjuangkan DP ini selama 48 bulan.
Caranya?
• Kita bisa sisihkan penghasilan bulanan kita dengan mengambil produk investasi yang imbal hasilnya kompetitif namun tidak bersifat spekulatif. Misal: Reksadana Pasar Uang, atau tabungan emas LM.
• Jika kita mengambil rumah dari Developer, kita bisa ikut program cicilan DP yang mereka tawarkan.
• Jika memperoleh penghasilan lebih, semisal mendapatkan bonus, komisi, alangkah baiknya kelebihan penghasilan ini difokuskan untuk kebutuhan terkait impian mewujudkan pembelian rumah ini. Jadi tetap tahan diri, dan hold dana ini mengingat ada kebutuhan dana lain selain biaya akuisisi hunian ( AJB, Pajak). Jika kita ingin menggunakan KPR, akan ada: Biaya asuransi, biaya Pengikatan (notaris), biaya provisi dan administrasi, pengendapan cicilan pertama KPR (jika ada). Plus biaya tambahan lainnya lagi seperti biaya renovasi (jika diperlukan) dan biaya pembelian perabot rumah. Simpan penghasilan lebih ini dalam rekening pasif atau dalam produk investasi yang imbal hasilnya tidak spekulatif.
Sehingga jika dihitung-hitung (berdasarkan pengalaman), kisaran dana yang harus kita siapkan sebelum membeli rumah antara 40%-45% dari harga jual rumah.
3. Angsuran Pinjaman
Hal lain yang sangat penting adalah menghitung kemampuan kita dalam mengangsur pinjaman. Jangan sampai kita tidak realistik, sehingga akan membebani cashflow, dan endingnya akan membuat kita terjungkal bahkan macet dalam mengangsur KPR.
Jika kita tidak memiliki fasilitas pinjaman yang lain alias bebas utang, maka maksimal besarnya angsuran perbulan adalah 30% dari penghasilan bulanan.
Jika kita sudah memiliki fasilitas pinjaman yang lain, maka kemampuan mengangsur KPR adalah sisanya.
Misal:
Penghasilan Rp.10 juta perbulan, maka kemampuan mengangsur 30% x Rp.10 juta = Rp. 3 juta.
Jika angsuran pinjaman yang lain Rp.1 juta, maka plot untuk angsuran KPR sebesar Rp. 2 juta.
4. Memilih KPR
Saat ini sudah banyak variasi penawaran perbankan terkait KPR. Perlulah kiranya kita lakukan window shopping untuk melihat kelebihan dan kelemahan dari masing-masing program yang ditawarkan perbankan tersebut.
Hal-hal yang perlu kita cermati, yaitu:
• Biaya-biaya yang akan dikeluarkan terkait pengikatan kredit
• Suku bunga yang ditawarkan (floating ataukah fixed) jika KPR di bank konvensional. Jika KPR di bank Syariah, bagaimana margin yang ditawarkan
• Pinalti Pelunasan sebagian ataupun seluruhnya. Periksa fitur ini dengan baik, karena kita sangat berharap jika suatu saat ada rejeki lebih, pastinya kita ingin sekali mengurangi besarnya angsuran perbulan dengan melakukan pelunasan sebagian atau bahkan bisa melakukan pelunasan seluruhnya sebelum jangka waktu KPR berakhir. Pastikan apakah ada penawaran bebas pinalti ataukah ada rate special untuk pelunasan ini.
5. Jika ingin membeli rumah tanpa menggunakan fasilitas KPR, bisa menggunakam sistem cash bertahap ke Developer.
Jika rumah incaran bukan dari Developer, maka sisihkan penghasilan perbulan dalam produk investasi yang imbal hasilnya kompetitif (setidaknya bisa mengimbangi laju inflasi) dan tidak bersifat spekulatif.
---
Janganlah membeli rumah pertama karena Gengsi. Kita harus pertimbangkan dengan baik sumber daya alias kemampuan finansial yang kita miliki. Jangan pernah membohongi kemampuan finansial kita sendiri.
1. Belilah rumah sesuai kemampuan
Memang benar jika kita bermimpi alangkah mimpi itu kita sematkan setinggi langit.
But wait...untuk case ini sepertinya tidak bisa kita terapkan. Mengapa?
Karena terkait menetapkan impian keuangan (financial goal), kita harus be SMART (Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Timely).
Jangan sampai apa yang kita impikan hanya sebatas halusinasi karena sulit untuk diwujudkan.
Secara sederhana, kita memiliki kemampuan untuk membeli rumah seharga maksimal 5x penghasilan setahun. Jadi, semisal penghasilan setahun adalah Rp.150 juta, maka harga rumah yang mampu dibeli adalah senilai Rp. 750 juta.
Sebaiknya jangan pernah mengabaikan point ini untuk memilih rumah pertama, karena kita harus realistis bahwa saat membeli rumah, kita harus pastikan memang rumah ini akan mempresentasikan diri kita yang sebenarnya, baik secara finansial dan juga selera kita.
2. Uang Muka (DP)
Jika belum memiliki dana secara gelondongan alias membeli secara cash rumah pertama, kita bisa upayakan beberapa alternatif pembiayaan baik dari perbankan (KPR) maupun cash bertahap kepada Developer.
Jika kita memilih menggandeng perbankan, tentunya kita harus mempersiapkan uang muka antara 20%-30% dari harga rumah sebagai syaratnya. Untuk kemudian sisanya akan dibiayai oleh perbankan dan kita tinggal mengangsurnya hingga jangka waktu KPR berakhir.
Mengenai cash bertahap kepada Developer, terkadang ada yang menawarkan tanpa uang muka sehingga kita tinggal mengangsur sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Yang perlu digarisbawahi untuk sistem cash bertahap kepada Developer yaitu, pastilah nominal angsurannya akan berkali-kali lipat besarnya dibanding dengan angsuran KPR, karena jangka waktunya akan lebih pendek.
Nah, bagaimana cara mengumpulkan dana untuk uang muka?
Hal ini menjadi salah satu alasan utama banyak orang menjadi enggan memiliki rumah karena merasa kesulitan mengumpulkan dananya.
Selalu saya ingatkan, bahwa semua butuh perjuangan. Jika kita sudah menyematkan tujuan keuangan, semisal:
Punya Rumah di komplek Permadani Estate seharga Rp.750 juta pada tahun 2025, DP 20% (sisanya KPR). Maka kita harus fokus dan berkomitmen untuk mewujudkan impian ini.
DP 20% x 750 juta = 150 juta
DP ini harus terkumpul 4 tahun lagi (2021-2025). Berarti kita memperjuangkan DP ini selama 48 bulan.
Caranya?
• Kita bisa sisihkan penghasilan bulanan kita dengan mengambil produk investasi yang imbal hasilnya kompetitif namun tidak bersifat spekulatif. Misal: Reksadana Pasar Uang, atau tabungan emas LM.
• Jika kita mengambil rumah dari Developer, kita bisa ikut program cicilan DP yang mereka tawarkan.
• Jika memperoleh penghasilan lebih, semisal mendapatkan bonus, komisi, alangkah baiknya kelebihan penghasilan ini difokuskan untuk kebutuhan terkait impian mewujudkan pembelian rumah ini. Jadi tetap tahan diri, dan hold dana ini mengingat ada kebutuhan dana lain selain biaya akuisisi hunian ( AJB, Pajak). Jika kita ingin menggunakan KPR, akan ada: Biaya asuransi, biaya Pengikatan (notaris), biaya provisi dan administrasi, pengendapan cicilan pertama KPR (jika ada). Plus biaya tambahan lainnya lagi seperti biaya renovasi (jika diperlukan) dan biaya pembelian perabot rumah. Simpan penghasilan lebih ini dalam rekening pasif atau dalam produk investasi yang imbal hasilnya tidak spekulatif.
Sehingga jika dihitung-hitung (berdasarkan pengalaman), kisaran dana yang harus kita siapkan sebelum membeli rumah antara 40%-45% dari harga jual rumah.
3. Angsuran Pinjaman
Hal lain yang sangat penting adalah menghitung kemampuan kita dalam mengangsur pinjaman. Jangan sampai kita tidak realistik, sehingga akan membebani cashflow, dan endingnya akan membuat kita terjungkal bahkan macet dalam mengangsur KPR.
Jika kita tidak memiliki fasilitas pinjaman yang lain alias bebas utang, maka maksimal besarnya angsuran perbulan adalah 30% dari penghasilan bulanan.
Jika kita sudah memiliki fasilitas pinjaman yang lain, maka kemampuan mengangsur KPR adalah sisanya.
Misal:
Penghasilan Rp.10 juta perbulan, maka kemampuan mengangsur 30% x Rp.10 juta = Rp. 3 juta.
Jika angsuran pinjaman yang lain Rp.1 juta, maka plot untuk angsuran KPR sebesar Rp. 2 juta.
4. Memilih KPR
Saat ini sudah banyak variasi penawaran perbankan terkait KPR. Perlulah kiranya kita lakukan window shopping untuk melihat kelebihan dan kelemahan dari masing-masing program yang ditawarkan perbankan tersebut.
Hal-hal yang perlu kita cermati, yaitu:
• Biaya-biaya yang akan dikeluarkan terkait pengikatan kredit
• Suku bunga yang ditawarkan (floating ataukah fixed) jika KPR di bank konvensional. Jika KPR di bank Syariah, bagaimana margin yang ditawarkan
• Pinalti Pelunasan sebagian ataupun seluruhnya. Periksa fitur ini dengan baik, karena kita sangat berharap jika suatu saat ada rejeki lebih, pastinya kita ingin sekali mengurangi besarnya angsuran perbulan dengan melakukan pelunasan sebagian atau bahkan bisa melakukan pelunasan seluruhnya sebelum jangka waktu KPR berakhir. Pastikan apakah ada penawaran bebas pinalti ataukah ada rate special untuk pelunasan ini.
5. Jika ingin membeli rumah tanpa menggunakan fasilitas KPR, bisa menggunakam sistem cash bertahap ke Developer.
Jika rumah incaran bukan dari Developer, maka sisihkan penghasilan perbulan dalam produk investasi yang imbal hasilnya kompetitif (setidaknya bisa mengimbangi laju inflasi) dan tidak bersifat spekulatif.
---
Janganlah membeli rumah pertama karena Gengsi. Kita harus pertimbangkan dengan baik sumber daya alias kemampuan finansial yang kita miliki. Jangan pernah membohongi kemampuan finansial kita sendiri.
Semangat 💛
* ilustrasi gambar dari google
* topik serupa dalam bentuk video https://youtu.be/XxmdR6SvfHs
Beli Rumah ataukah kendaraan??


Komentar
Posting Komentar